outbound-ROHIS SMA N 1 WONOGIRI

mau dimasukkan ke azhar belum diterima. Assalaamu’alaikum wr… Allow sobat azhar, ne ada criting-criting tentang kegiatan ROHIS. Mau tau khan, mau…mau…mau?! Orche, let’s check it out! Kemarin, tepatnya tanggal 9 Mei 2009 ROHIs mengadakan kegiatan, tempatnya di mana coba?! May be yang ada di benak antum di masjid, aula, ato diperpustakaan. Kalo itu tebakan antum, antum salah besar(eh gag besar-besar amat denk).. ja waa ban nya adalah…. Ke plaza!!! (jangan mengelus dada ya!). emank anak ROHIS ke plaza mo ngapain? Ngeliatin orang maksiat? (may be itu yang pertanyaan yang menyelusup di hati antum tanpa antum sadari). ROHIS tepatnya Departemen ROHIS Nisa’ ato DANNISA’ mengadakan outbound n sharing bareng alumni. Acaranya sueru lhoooh! waktu udah kumpul semua(Salookkk!). ya denk salok. Waktu udah kumpul salokdan angkotnya juga udah siap kloter pertama diberangkatkan + barang-barang yang dibutuhkan(tikar dan makanan) ke t4 destinasinya. Beberapa menit kemudian kloter kedua juga diberangkatkan. Setelah udah kumpul salok di t4 yang biasa digunakan untuk off road, acaranya dibuka oleh mbak-mbak yang cerewet dan agak narsis. Di sela-sela acara pembukaan da pembagian snack, tyus game. Diawali dengan pembentukan kelompok, and then per kelompok berjajar mundur ke belakang. Tugasnya yaitu yang paling belakang diberi tau juri 2 kata. Kemudian 2 kata tadi diukir(diukir?), kamsutnya ditulis dalam punggung teman yang ada di depannya dengan tangan, tidak boleh menggunakan alat Bantu apapun. Ada yang lucu neeh. Khan ada 3 kelompok, jadinya juri menyiapkan 3 soal. Nah di kertas juri tertulis: 1. Ukhuwah islamiyah 2. ROHIS smansari 3. Dakwah islam Khan ketua kelompok harus mempresentasikan 2 kata yang diberantaikan tadi, nah kelompok 2 tu sampai di ketuanya Cuma huruf R-O-H-I. ketuanya harus mempresentasikan apa dengan huruf itu? Hikz..hikz…hikz… Setelah alumni melihat-lihat tempat yang akan digunakan untuk outbound, para alumni memperkenalkan diri. Mereka adalah mbak Amy(angkatan 2005, sekarang di UMS), mbak Nining(angkatan 2006,di UMS juga), mbak Fitri(angkatan 2005, bekerja di As Gross), dan mbak Rita(angkatan 2004, di UNS). Tyus acara inti pun dimulai yaitu outbound. Qta diminta turun ke tempat yang bawah. Lebih teduh daripada di atas. Qta diberi selembar kertas kecil yang masih kosong. Di kertas tersebut qta diminta untuk menulis semua masalah yang menggelayut di benak qta, apa saja masalah, dengan sekolah, ortu, masyarakat, dab. Setelah durasinya habiz qta diminta untuk mentobek-nyobek ria kertas tadi hingga ukuran terkuecilll. Tyus disebarkan deeh. Serasa masalah qta dilolosi satu per satu, hingga hati qta menjadi lapang. Hkmah yang bisa qta ambil dari permainan ini adalah
(!) selesaikan masalah-masalah tadi setuntas-tuntasnya (2) jangan dipikirkan masalah-masalah kecil yang sering kali qta anggap besar, contohnya ketika ada yang berceletuk tentang qta ya RDG(Ra sah DiGagas) aza, buang masalah-masalah kecil kayak gichu (3) silakan masalah-masalah tadi diceritakan/disharekan ke orang lain, khan bisa plong.
Setelah itu qta mengubah posisi dari duduk menjadi berdiri membentuk lingkaran tyus melakukan tepuk konsentasi. Gimana ya, sulit untuk menerjemahkan melalui kata-kata-gerakannya-. Hikmahnya adalah ketika qta melakukan suatu kegiatan maka focuslah pada kegiatan tersebut. Pusatkan pemikiran-pemikiran yang sedang terpencar-pencar ke suatu titik yang sedang qta hadapi. Setelah itu pembagian kelompok lagi, tadi khan oleh mbak MC sekarang oleh alumni, yaitu dengan berhitung mulai dari 1 hingga 4. tiap kelompok kurang lebih ada 6 orang. Di game ini nama kelompok ditentukan oleh alumni. Kelompok itu diberi nama dengan nama hewan seoerti ayam dan bebek. Nah semua peserta menutup mata dengan slayer –yang telah dibawa oleh peserta- dan menirukan suara seperti nama kelompok mereka. Mereka dipisah-pisah dari kelompoknya, kemudian mereka harus bisa menemukan populasi mereka, ya dengan kesamaan suara itu tadi. Hal yang bisa dipetik dari game ini adalah ketika qta punya persamaan pemikiran/ideologi maka qta akan cenderung ngegape sama orang yang berideologi sama. Game terakhir adalah memperebutkan panji. Caranya dengan qta sekelompok berjajar ke belakang tyus salah satu kaki diikat dengan tali. Qta punya nyawa di tangan yang disimbolkan dengan rumput jepang yang diikatkan juga. Ketika ada 1 kelompok terbesut(eeh.. tersebut maksudnya). Di game ini kayaknya berlaku hokum rimba-yang kuat adalah yang menang-. Uuugghhh kelas XII mentang- mentang udah menyelesaikan ujian-ujian za tyus mengerahkan semua tenaga untuk mengalahkan kelas X dan XI. Sama adek gag mau ngalah!!! Nilai morak yang bisa qta ambil dari game tersebut adalah bahwa di suatu organisasi qta harus selalu mengeratkan ukhuwah yang dilambangkan dengan nyawa di tangan. Untuk mencapai tujuan qta-tegaknya kalimatullah- qta harus mengeratkan ukhuwah. Acara selanjutnya adalah taushiyah dari bu Eka, makan, foto bareng, n back to Azhar. Di Masjidil Azhar qta sholat tyus sharing, mengupas kendala-kendala yang dihadapi ROHIS Smansa. Beside that ada juga doorprize lhooch. 3 doorprize yang isinya –kalo dibahasakan- menengah ke atas.! N the last, acara ditutup n kembali pulang. Wassalamu’alaikum wr…
Readmore >>

kelasku-SMA N 1 WONOGIRI

assalaamu'alaikum wr... telah setengah tahun lebih aku menempati X.2..tawa canda duka telah tercampur menjadi es campur yang lezat dimakan. di sana kubelajar banyak hal. di sana tempat yang unik. di sana tercampur puluhan siswa. mereka sungguh unik.ada si genius, funkers, dan semua bercampur aduk menjadi sesuatu yang mengasyikkan. si genius, yang amat sederhana, masyaAllah sekali. si funkers yang lucu bin gak meyakinkan. aku merasakan ada sesuatu yang hilang, yang dulu sering dilakukan kelasku, yaitu berbagai macam julukan, ketika ada yang nyerempet dengan julukan itu sorak soraipun terdengar dari kelasku yang dulu. dan sekarang kami sudah berpencar, ada yang di smanda, skansa, sud1,sud2 dsb. kadang jika mengingat mereka aku kangen ma kalian. temanku, selama 3 tahun qta sekelas. Tuhan, sampaikan sejuta salamku untuknya. dan sekarang, tinggal menghitung hari qta bersua, qta kan berpisah, maybe aku akan merindukan kalian, merindukan yel2 X.2, dan semuanya. semoga Tuhan mempertemukan qta di tempat yang lebih indah. semoga Tuhan mengabulkan doa2 qta. amin
Readmore >>

semu-PUISI

Tuhan, kenapa dunia ini begitu semu? semu untuk dilihat, semu untuk didengar, semu untuk diraba. Tuhan, kenapa kehidupan ini begitu kelabu. tersamar oleh keburukan. kenapa sesuatu yang baik tersamar? dan yang buruk pun tersamar. Tuhan, kenapa kehidupan ini diliputi kabut? kabut yang membingungkanku dan mungkin menenggelamkanku ke dalamnya. Tuhan, kenapa Tuhan? Tuhan, apakah ini bumbu pemanis kehidupanku? apakah ini aral yang kan mendewasakanku? Tuhan, apakah ini salah satu dimensi kehidupanku? apakah ini salah satu mozaik hidupku?
Readmore >>

RINGKASAN SOSIALISASI-MATERI PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X

Assalamu’alaikum wr… Ni hao sobat?? Gimana ne musim ulangan ya,,.. sama lo gitu.. besok ullangan sosiologi,,dah belajar se tapi Cuma dikit..mau ana rangkumin g materinya apa aza?? A.Sosialisasi: proses pembelajaran individu untuk mengenal n menghayati nilai dan norma yg berlaku dalam masyarakat,,. B.Tujuan sosialisasi: -mengajarkan kpd individu dasar-dasar kehidupan masyarakat ---------------------------------- ketrampilan n teknik u mempertahankan hidup ---------------------------------- status n peranan dalam kehidupan bermasyarakat -Mengembangkan komunikasi yg efektif -memberikan identitas social PD masyarakat C.Tahap2 proses sosialisasi menurut george Herbert mead: 1.tahap anak-anak -pada usia 0-5 tahun individu berinteraksi dengan keluarga.pada tahap ini anak melakukan tindakan meniru khususnya meniru orang tua(preparatory stage) -pada saat anak berada dalam dunia sekolah,anak melakukan interasksi yang lebih luas,yaitu mencakup teman,sekolah, dan masyarakat.,,pada tahap ini individu memainkan peran-peran tertentu(play stage) 2.tahap remaja(14-21 th) -pada tahap ini individu memainkan peran yang lebih tinggi ,yaitu mulai meniru segala sikap dan tingkah laku tokoh idola(game stage). -bersikap:suka berkumpul,emosi labil.lebih agresif,kritis terhadap persoalan 3.tahap dewasa -pada tahap ini individu mencoba menyesuaikan diri pd pola-pola kehidupan masyrakat u mencapai keserasian,keseimbangan,harmonisasi(generalized other) -kulminasi(puncak proses sosialisasi D.Jenis sosialisasi: Secara umum 1.s.primer:sosialisasi yg dilakukan pertama kali yg dialami individu(keluarga) 2.s.sekunder:sosialisasi lanjutan dari sosialisasi primer,YG mencakup lingkungan yg lebih luas(sekolah,masyarakat,teman) Yg tjd dalam keluarga 1.s, represif:sosialisasi yang lebih menekankan pemberian hukuman, komunikasi 1 arah, dan anak didominasi orang tua 2.s.partisipatif:sosialisasi yang menekankan pd pemberian hadiah, komunikasi 2 arah. Dan anak mjd pusat perhatian orang tua. E.Media sosialisasi: 1.keluarga: -media sosialisasi yg pertama dan utama,, -bertujuan untuK mempersiapkan individu yg dibekali nilai moral keagamaan dan kemasyarakatan agar terbentuk individu yg mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan masysrakat. -fungsi keluarga: f.pendidikan f.pengawasan f.ekonomi f.sosialisasi f.reproduksi 2.sekolah -media sosialisasi yg kedua -fungsi: Memberikan bekal bagi individu berupa ilmu pengetahuan Mewariskan nilai kebudayaan Menanamkan nilai dan moral Memberikan ketrampilan dan keahlian dlm berinteraksi dan berkomunikasi dg masyarakat 3.llingkungan kerja -media sosialisasi yg sangat berpengaruh dlm menjalankan peranan sesuai dg tugas dan jabatannya 4.media massa -media sosialisasi yg berpengaruh pada khalayak dlm memperoleh inform dan dalam waktu yg relative singkat 5.teman sepermainan -media sosialisasi yg sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian individu.khususnnya remaja coz mellibatkan hub sederajat.perkumpulan dalam hal positif:klik.perkumpulan dalam hal negative:geng
Readmore >>

MASLAHAT ZAITUN-CERPEN

Matahari yang ada di barat serasa ingin menyembunyikan diri di balik kelabu gunung. Orange, merah, biru berpadu menjadikan orang yang memandangnya iri dengan keindahannya. “Masyaallah indah sekali lukisan-Mu ya Rabbi.” Kata Asysya dalam hati yang sedang berjalan menuju masjid untuk TPA sambil mendongak ke langit.. Kelelahan sepulang dari PMR tak membuat hati Asysya ogah-ogahan mengikuti TPA, prinsipnya lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Riuh rendah anak-anak nampak di masjid Al-aziz. Seorang lelaki dengan jambang yang lebat dan jidat yang menghitam-menampakkan khusyuknya dalam shalat- sedang mengkisahkan seorang nabi yang terkenal dengan ketampanannya. Celana di atas mata kaki menambah nilai plus-plus penampilannya. “Assalamu’alaikum..” Asysya memasuki masjid, lalu duduk bersebelahan dengan asisten lain. “wa’alaikumussalam..” jawab penghuni masjid(penghuni,??kayaknya serem amat). Beberapa asisten mas Haris,yang semua akhwat (tapi masih perlu dipertanyakan keakhwatannya…!) dan anak-anak dengan serius menyimak kisah mas Haris. Namun ada juga yang ngobrol sendiri(ama temen ding). Setelah cerita berakhir dengan iringan hamdalah dan doa penutup majelis,mas Haris meminta agar para asisten tetap berada di tempat, karena ada sedikit tausiyah. “Assalamu’alaikum wr..” mas Haris membuka tausiyah. “ Wa’alaikumussalam wa..” jawab para asisten serempak. “Segala puji bagi Allah..blablabla” “Ana mau menyampaikan sedikit materi tentang macam tauhid.tauhid ada 3 macam blablabla.” Jelas mas Haris. Ketika pulang, mas Haris bertanya pada kami: ”Dik,dah tau manfaat minyak zaitun buat menghaluskan dan memutihkan kulit?” “Gimana caranya mas.” Tanya Rohmi yang terkenal nakal menurut mas Haris “Minyak zaitun tho dik, itu dituangkan ke sendok truz dipanaskan , nah setelah itu oleskan ke wajah,diamkan sampe pagi, nah bangun tidur cuci muka. Temen ana pernah nyoba lho dik, dan hasilnya ok.” “lha jenengan ga nyoba mas?” celetuk Ruri “Ga dik.” Mas Haris mengakhiri. Terbetik dalam hati Asysya ingin mencoba. “mas, saya titip minyak zaitun. Harganya berapa?” Tanya Asysya “Ya dik.ahad depan insyaAllah. Harganya 5000. ada barang,ada uang ya. Kata mas Haris sambil menundukkan pandang.” “O ya,ana bawa majalah.” Mas Haris menyodorkan beberapa majalah. Para asisten pun sibuk memilih-milih buku-buku tersebut. Di cover depan majalah itu tercetak tulisan besar EL FATA dengan tema-tema yang meremaja banget, about teen n love. “Mas, aku pinjem ini.” Kata Asysya sambil menunjukkan majalah yang ada di tangannya. Begitu bersahutan dengan Ruri dan Merlin.
Readmore >>

AIRMATA DI PENGHUJUNG PERPISAHAN-CERPEN YANG PANJANG

AIRMATA DI PENGHUJUNG PERPISAHAN Jam 7 kurang 10 menit, kelas IXB sudah ramai berlalu lalang manusia-manusia penghuninya. “Sya, kamu mau ikut liqo gak?” tanya Salsa pada sahabat sekliknya yang sedang duduk asyik membaca buku Islam. “Asysya berhenti membaca. Posisi yang sebelumnya duduk terpaku pada buku, ia alihkan pada sesosok wajah berparas ayu, Salsa namanya -berperawakan tinggi, putih, dan bergelombang rambutnya- yang sedang berdiri di sampingnya. “Apa kamu bilang li..liqo, liqo apaan seeh?” tanya Asysya penuh selidik. “Ya, kayak kajian gitu.” jawab Salsa. Salsa bertanya seperti ini pada Asysya karena menurutnya Asysya teman yang mudah diajak mengikuti kegiatan seperti ini. Di rumah Asysya juga masih ikut TPA. Dan sepertinya punya ghiroh(semangat) untuk menuntut ilmu agama. “Sa, nanti liqonya ma syapa?” tanya Asysya seperti mengganti huruf i menjadi y pada kata terakhir. “INSYAALLAH ma aku, Yaya, dan Lune Cahaya.” jawab Salsa. “Mereka dah tau?” Asysya menimpuk lagi. “Belum. Lo Yaya nanti ku kasih tau. Lune, istirahat kedua kita ke kelasnya ya. Istirahat pertama biasanya kamu makan.” jawab Salsa “Ya. Dikondisikan.” sambut Asysya mantab. Jam 7. Theeeethhhhhhhh..theeeeeetthhhhhhhh..theethhhhh..Bel masuk berbunyi. --***-- Bel istirahat pertama berbunyi. “Sya, kamu makan kan?” tanya Ana, teman sebangku Asysya yang familiar dengan kegeniusannya dan ketomboyannya itu. Doski merupakan salah satu fans berat Kaka AC Milan. Cewek yang berambut ala Bucile itu tiap pekan beli majalah Soccer. “Ya,yuk” jawab Asysya. Pertanyaan yang sama pun terlontar dari mulut Yaya, Ratu Cerewet seklik DREAMS(nama klik mereka, nama itu diambil dari nama-nama mereka, anggotannya berjumlah 6 cewek). “Ya.” jawab Asysya singkat. Mereka bertiga makan ke kantin luar sekolah, Kantin Biru, mereka menyebut seperti itu. Setelah selesai, mereka kembali ke kelas. --***-- Istirahat kedua. “Sya, yuk bilang ke Lune.” kata Salsa. “Ayuk.” Asysya menyambut ajakan Salsa dengan berdiri. Kemudian mereka berjalan bersama ke kelas IXC. “Sa, emang liqonya nanti yang ngisi siapa?” “Mbak Inti, tetanggaku.” “Mbak Inti,… Oooo…” Asysya mengulangi sambil beroo. Di depan IXB gak ada cowok-cowok yang lagi duduk-duduk ngobrol. Dan di depan IX C hanya ada beberapa cowok yang duduk di sana. “Lun, kamu mau ikut liqo nggak?” tanya Salsa sambil menyeruak masuk setelah melihat wajah Lune Cahaya. “Liqo? Kajian maksudnya? Kapan? Di mana?” tanya Lune tanpa cas-cis-cus seperti Salsa bertanya tanpa bla-bla-bla. “Ditanya ganti nanya.” serobot Asysya. “Eee..ya..aku jawab deeh. Aku liat sikonnya dulu. Trus harinya hari apa dan di mana? “Kalo Kamis gimana?” tanya Salsa sambil memandang Asysya kemudian Lune. Asysya dan Lune manggut-manggut. “Terus tempatnya, gimana lo di masjid dekat warnet Eriya itu?” Salsa “Iya deeh, setuju.” kata Asysya “Aku juga setuju, aku usahakan.” sahut Lune “Ya udah deeh aku ma Salsa ke kelas dulu. Bener ya Kamis?” tanya Asysya memastikan. “Ya.” jawab lune. “Daa neek.” tutup Asysya sambil mengatakan salam perpisahan ala doski. “Daa.” sambung Lune Cahaya “Sa, Yaya gimana?” tanya Asysya. “Aku kondisikan deeh, tadi aku dah cerita-cerita ma doski tentang liqo dan bisanya Kamis.” kata Salsa --***-- Kamis, hari yang ditunggu-tunggu Asysya tiba. Pulang sekolah mereka berempat(Asysya, Salsa, Yaya, dan Lune) berkumpul di depan kelas IXB. “Ayo.” pinta Asysya tak sabar. Mereka berempat berjalan menuruni tangga, melewati kantor guru, melewati masjid sekolah yang sering dikunci, melewati warung, pendopo kecamatan Sidoharjo, warnet Eriya, mendaki gunung, lewati lembah(hiks hiks..hiks yang 2 koma sebelumna kayak lagu ya??? Next..) dan sampailah mereka di depan bangunan yang sepertinya lebih tepat disebut mushola, tapi may be udah diresmikan namanya menjadi masjid yaitu masjid An-nur. Yang di sebelah timurnya bisa digunakan untuk liqo. . Dari kejauhan ada seorang wanita hamil yang nampaknya sudah menunggu sejak tadi, wanita itu memakai gamis warna coklat dengan jilbab warna senada plus kaos kaki dan yang pasti sandal. Beliau tiba kemudian menyalami dan cipika- cipiki mereka satu per satu serta menanyai nama mereka. “Oooohh, indahnya Islam jika semuanya seperti ini.” batin Asysya. Mereka masuk, sholat Dhuhur, kemudian liqo. Liqo pertama. Kamis, 27 September 2007. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” mbak Inti membuka liqo. Bla…bla…bla… --Akhirnya sampailah pada sesi tanya jawab-- “Apakah ada pertanyaan?” mbak Inti memulai sesi tanya jawab. Satu pertanyaan terlontar dari Asysya dan berhasil dijawab mbak Inti. Dan satu lagi pertanyaan dari Yaya. Juga berhasil dijawab oleh mbak Inti. Karena Asysya dan Yaya bertanya, mereka berdua mendapatkan bingkisan berupa kaos kaki putih. Liqo ditutup. “Marilah liqo kita pada kali ini kita tutup dengan bacaan istighfar, hamdalah, dan doa kafaratul majlis.” tutup mbak Inti. Tak ketinggalan pula satu persatu berjabat tangan, mengucap salam, dan cipika-cipiki. --***-- Sore harinya Asysya SMS mbak Inti, tanya tentang agama. SMS Asysya dibalas, dibalas pake kata sayang. “Ooooh, so sweetttt, mbak Inti manggil aku(orang yang baru dikenalnya) dengan panggilan sayang, penyayang sekaliii.” batinnya dalam hati setelah mendapat balasan dari mbak Inti Kini ia ingin memanggil mbak Inti dengan sebutan MBAK SAYANG. Setelah diceritakan ke Salsa lewat HP, ternyata Salsa juga dipanggil pake sayang, ya tercetuslah nama MBAK SAYANG dalam memory Asysya. --***-- Jumat, 28 September 2007 Pulang sekolah Asysya menghampiri Ayu di kelas IXA. “Yu, kamu ke PMI khan?” “Iya dunk.” jawab Ayu, sohib Asysya sesama anggota PRAMANDA(Palang Merah Remaja Ndarjo 1), cewek beralis tebal dan berjilbab ini adalah teman setia Asysya ke PMI. “Dah makan Sya? tanya Ayu sambil membenarkan letak tas di pundaknya. “Belum, yuk makan di kantin mbah Sinah.” ajak Ayu. “Yuk.” Mereka berjalan beriringan menuju kantin mbah Sinah.. “Sya, kamu sholat gag?” tanya Ayu. “Eghhh,,… lagi neeh.” “Ooooo.. kita bareng ya, aku juga. Sya, masih 2 jam waktu kosong. Kamu mau ke mana?” tanya Ayu lagi. “Di sini aja yaah, qta ngobrol-ngobrol.” “Oche.” sambut Asysya. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri mewaspadai kalau-kalau ada sepeda, mobil, atau kendaraan lain. “Kosong.” batin Asysya. “Ayuk.” ajaknya agak lirih. Mereka sampai ke seberang. Asysya tak langsung memesan makanan, ia melihat-lihat majalah yang terpampang di samping kantin itu. Ayu pun mengikuti. Setelah beberapa saat mereka baru memesan makanan. Mereka memesan nasi oseng-oseng dan es teh. Mereka pun makan sambil ngobrol. “Sya, kamu dengar kabar gak lo anak-anak kelas 7 ma kelas 8 lagi musuhan. Katanya kelas 7 tu kurang sreg ma kelas 8 gitu.” “PMR?” Asysya memastikan. “Yup.” kata Ayu sambil mengatupkan bibir atas dan bawahnya. “Belum tau Yu’, emang ceritanya gimana seeh?” “Katanya seeh bla..bla..bla..” Ayu bercerita dengan panjang lebar(luas),sejelas-jelasnya, dan sedetail-detailnya. Satu tiga perempat jam berlalu. “Sya berangkat yuk.” “Yuk.” Mereka berjalan menuju tempat pemberhentian bus. Tak lama kemudian bus pun menghampiri mereka. Mereka duduk di kursi nomor 3 dari depan yang cukup untuk 2 orang. Di dalam bus mereka ngobrol-ngobrol(biasa cewek banyak ngomongnya). Tentang guru mereka, ortu, cinta, cowok(dua dari belakang ini yang banyak diceritain)., dsb. Satu jam berlalu di dalam bus. Mereka sampai di depan RSUD Wonogiri, mereka turun, menyeberangi jalan, kemudian ke PMI. Mereka berdua masuk PMI, baru ada sedikit orang. Dari sedikit orang itu bertambah dan bertambah. Kegiatan pertemuan dibuka oleh seorang cowok, ia biasa disebut lotho/kodok, dan entah darimana asal nama itu. Satu kalimat yang masih terngiang-ngiang dalam memory Asysya, pasti pembukaannya pake Selamat datang wajah-wajah baru dan wajah-wajah…lama… “Ukhhh…monoton.” batinnya. Kegiatan selanjutnya diisi oleh pak Tarjo(dedengkotnya PMI), seorang pak kumis(ada kumisnya) yang berisi_maksudnya gendut_ dan cukup lucu. Dua jam berlalu, acara diisi dengan materi PP(Pertolongan Pertama). Jam 4. pertemuan diakhiri dengan berdoa. Asysya ingin ke swalayan Roland.ada keperluan. “Yu’, aku da keperluan ke Roland neeh kamu mau nemenin khan?” “Dengan senang hati teman.” jawab Ayu sambil mengulum senyumnya. Sampai di Roland Asysya mencari barang keperluannya, kemudian keluar. “Yu’, ayo lewat jalan yang laen, biar tambah tau dan tambah pengalaman, qta gak usah lewat jalan yang biaza, khan gak seru.” pinta Asysya. “Ayo, capa takyut.” sambut Ayu sambil membuka lebar-lebar kedua mata bulatnya. Mereka melangkah, dari Roland ke kiri masuk melewati suatu gang. “Yu, ada toko buku, mampir yuk.” “Mana?” “Itu..tu.” kata Asysya sambil menunjuk toko dengan plakat nama AZZAHRO. “Iya.” kata Ayu sambil melihat tangan Asysya menunjuk. “Ya udah, mampir dulu, aku juga pengen tu liat-liat.” Tambah Ayu. Mereka mampir ke toko buku itu. Toko yang lebih tepat disebut kios itu hanya berukuran kecil, dijaga oleh seorang ABG(Anak Berjilbab Gedhe, bukan anak denk tapi mbak-mbak=>mbak jilbaber) . Mengetahui kedatangan mereka, mbak jilbaber itu mempersilakan Asysya dan Ayu melihat-lihat. “Ayo dhe’ masuk, silakan kalo mau liat-liat.” mbak jilbaber membuka percakapan. “Ya mbak.” jawab mereka kompak. “Yu, aku pengen itu deeh, tapi aku gak bawa uang segitu. Kapan-kapan deeh ke sini lagi.” kata Asysya sambil mengeluarkan wajah melasnya. ^-^ “Sya, kamu bener-bener pengen itu?” Asysya mengangguk. “Pake uang kas PMR dulu gimana?” kata Ayu memberi solusi. “Gak papa neeh?” “Iya, gak papa, gak mama juga boleh, asal dikembaliin!” kata Ayu seperti meledek. “Iya, tenang za.” “Neeh bayar geeh.” kata Ayu. “Terima kasih temanku. Kamu baek deeh.” senyum Asysya mengembang. “Lo ada maunya aza.” “Hiks-hiks-hiks.” senyum Asysya tak meyakinkan.. Transaksi jual beli pun terjadi antara Asysya dan mbak jilbaber. Harga yang terpampang di depan cover tak bisa terelakkan oleh Asysya, Rp 12.500,00. setelah Asysya meroggoh kocek dan membayarnya, diapun lantas mengakhiri. “Assalamu’alaikum.” Asysya mengakhiri. “Wa’alaikumussalam.” “Yu’, makasih beud ya. InsyaAllah aku sahur secepatnya.” “Ya. Aku boleh liat?” “Ya boleh lah,neeh!” kata Asysya sambil menyerahkan buku berukuran kecil berwarna biru muda kepada Ayu. “Afifah Afra-pengarangnya-, judulnya-Datang, Serang, Menang-.” batin Ayu. --***-- Sabtu, 29 September 2007. Malam hari. Assalamu’alaikum.. Hadiri bedah buku dengan pembicara Afifah Afra Amatullah(penulis buku). Di jatisrono. Besok, ahad 30 september 2007. Kumpul di Sidoharjo, toko Pak Be Jam 8. “SMS dari mbak Sayank.” batin Asysya. “Gimana ya.” batinnya lagi. “Afifah Afra… Pa beliau.. beliau??” batin Asysya. Dari depan televisi Asysya langsung ke kamarnya mengambil buku yang kemaren ia beli. “Iya. Afifah Afra. Aku pengen ikut dan aku harus ikut.” katanya dalam hati yang sedikit bergemuruh kencah. Asysya kemudian bicara pada ibu dan ayahnya, mereka tidak melarang. “Hore.” girang Asysya dalam hati. --***-- Asysya bangun seperti biasa. Sholat Subuh, baca Al Qur’an kemudian membantu ibu membersihkan rumah dan mandi. Kemudian ia meminta ayahnya supaya mengantarnya ke Sidoharjo. “Yah, anterin Asysya ke Sidoharjo.” “Yuk.” Ayah memboncengkan Asysya sampai ke Sidoharjo. Setelah turun Asysya minta uang saku dan cium tangan. Asysya menanti dan terus menanti. “Ukhhh.. mana ne mbak sayank?” batinnya. Sudah setengah jam Asysya menanti. Tiba-tiba dari belakang nampak beberapa orang berjilbab menuju tempat Asysya berdiri. Asysya menoleh. “Ehh.. itu dia.” “Assalamu’alaikum.” Dah lama dhe’?” tanya mbak sayank. “Wa’alaikumussalam...mmm” jawab Asysya sambil senyum. “Wah, mbak Fifin.” celetuk Asysya. Mereka saling berjabat tangan. Tak lama kemudian mereka menaiki minibus dan melaju menuju Jatisrono. Mini bus berjalan menembus angin dengan lembut, hingga terkesan lelet dalam hati Asysya. Di Jatisrono Asysya tak tau ia turun di mana. Teman-teman turun, ia ikut saja. Tiba di sana mbak Sayank langsung berjabat tangan dan cipika cipiki sama temannya. Ketika mereka masuk, mereka bertemu peserta lain, mereka berjabat tangan, senyum, dan mengucapkan salam. “Oooh indah sekali islam kalo bertemu saja seperti ini.” batin Asysya. Acara dibuka oleh seorang anak SD, sepertinya dari SDIT. “Masyaallah sekali!! Kita yang duduk di sini anak SMP, SMA, gak sekolah, dan kuliah.. ee.. yang buka anak SD.” celetuk Asysya dalam hati. Waktu mendengarkan, di samping Asysya ada yang bertanya pada Asysya. “Adhe’ namanya syapa?” “Asysya mbak. Kalo mbak namanya siapa?” Asysya balik bertanya pada mbaknya. “Saya mbak Ani. Rumahnya di mana dhe’?” “Eeee.. Girimarto. Kalo mbak?” “Saya tinggal di Wonogiri deket SMA 1 Wonogiri.” “Ooooo..” Asysya beroo. “Kelas berapa dhe’?” “Kelas IX SMP mbak.” “SMPnya mana?” “SMP N 1 Sidoharjo.” “Mau nerusin ke mana?” “Insyaallah SMA 1.” -Saat sesi tanya jawab- “Silakan yang ada pertanyaan untuk maju ke depan.” kata mbak MC. “Mbak apa bedanya antara mahrom dengan muhrim?” tanya Asysya pada mbak Ani. “Coba tanya ke depan dhe’. Ayo dhe’, gak pa2 lho. Pengalaman.” mbak Ani mendorong. And then Asysya mau maju deeh karena dipaksa dan dimotivasi mbak Ani.. “Namanya siapa dhe’?” tanya mbak MC. “Asysya.” “Ya, dhe’ Asysya mau tanya apa?” Dada Asysya rasanya berguncang ria dan bergemuruh. Tahukah kau, demam panggung telah menyerangnya? Menyergap melalui belakang tengkuknya, melaju menuju aliran pembuluh darah. Berada di dekat penulis sekaliber Afifah Afra. Ngomong di hadapan orang banyak. Dag-dig-dug(gak pake dhuer), itu yang ia rasakan. Walau demikian Alhamdulillah doski masih bisa menguasai kondisi, yaah paling gak doski masih sadarkan diri. He…he…he…. “Saya ingin menanyakan apa perbedaan antara mahrom dengan muhrim?” Asysya bertanya dengan sedikit tertetih-tatih merangkai kata-kata. Beberapa orang maju ke depan untuk bertanya. Dan Asysya duduk lagi di belakang. “Yaah, pertanyaan kami tampung dulu.” kata mbak MC. “Dhe’ tadi suaranya kurang keras lho, aku gak kedengaran.” kata mbak Ani “Ehm.. mungkin mulutku kurang dekat ma microfonnya Mbak.” jawab Asysya “Ya, saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang sudah ditampung.” kata mbak Afra, isteri dari pak Ahmad Supriyanto itu.. “Pertama dari ukhti(saudara seiman perempuan-tunggal) Sasa, bahwa bla..bla..bla..” “Kedua dari ukhti Asysya, untuk perbedaan antara mahrom dan muhrim, kalo mahrom itu orang yang haram dinikahi sedangkan muhrim adalah orang yang sedang berihrom.” “Ketiga…” “Keempat..” “Kelima..” “Ya, kami persilakan mbak Afra untuk memilih 1 pertanyaan yang wah.” kata mbak MC. “Ya, semua pertanyaan bagus, tapi pasti dari kelima pertanyaan itu ada yang paling bagus.” kata mbak Afra. “Saya berpendapat dari kelima pertanyaan tadi yang terpilih adalah dari ukhti Amma.” “Ya, kepada ukhti Amma kami persilakan maju ke depan untuk menerima bingkisan.dari mbak Afra.” kata mbak MC. Ia maju ke depan. “Ya, gak pa2 aku gak terpilih, yang penting khan tanya.” batin Asysya. Dari acara ini Asysya memperoleh ilmu, teman, snack, dan modul ringkasan buku LOOK I’M VERY BEAUTY. “Mau gak saya ajarkan senam otak.” tanya mbak Afra pada audiens. “Mau.” sontak semua peserta memadukan suara. “Saya minta tangan kanan diangkat, gag pake goyangkan badan lho! Mari bernyanyi bersama saya.” kata mbak Afra sedikit melawak. Mbak Afra mencontohkan. “C-O-C-O-N-U-T-T-U-N-O-C-O-C.” mbak Afra bernyanyi sambil membentuk jari-jarinya sesuai dengan huruf yang beliau ucapkan. Peserta pun menirukan, tak luput si Asysya. Menjelang waktu sholat Dzuhur bedah buku dihentikan untuk persiapan sholat. Sebelum wudlu, Asysya melihat-lihat buku yang terpampang di bazaar buku. Asysya membeli buku yang berjudul MOM N ME karya Pipit Senja dan buah hatinya yaitu Butet. Asysya berjabat tangan, mengucapkan salam, dan cipika cipiki sama mbak Afra. Dia pun tak lupa untuk meminta tandan tangan. Sebenarnya bisa juga foto bareng tapi Asysya gak bawa HP. Oh enak beud bisa berjabat tangan, cipika cipiki, dan dapet tanda tangan dari penulis sekaliber Afifah Afra. Mbak Fifin beli buku LOOK I’M VERY BEAUTY, yang ngarang juga Afifah Afra. Setelah itu kami bersama pergi ke masjid terdekat untuk wudlu kemudian sholat. Sambil antre untuk wudlu, Asysya n plends bercanda. Kocak abiess, apalagi ada mbak Fifin. Giliran Asysya dan plends wudlu. Sebelum tu Asysya ketemu mbak Afra. Belio senyum. “Oooh.. Plendly sekalay.” batin Asysya sedikit lebay.. Setelah wudlu mereka sholat Dzuhur berjamaah, kemudian kembali ke tempat semula. Acara selesai, mereka pulang. Naik bus Asysya dibayarin mbak Sayank. “Jazakillah khoir(semoga Allah membalasmu dengan kebaekan) ya mbak.” kata Asysya ketika berpamitan ma mbak Sayank karena mbak sayank dah sampai dan beliau mau turun. Asysya sendiri di bus. Dia membuka dan membaca-baca buku yang tadi ia beli --***-- Liqo gak jalan karena selalu ada yang menghalanginya, entah mbak Sayank gak bisa maupun Asysya n plends yang gak bisa. Singkat cerita mereka gak bisa menentukan hari yang tepat untuk liqo lagi. Beberapa kali Asysya bertemu mbak Sayank di jalan. Waktu Asysya mau latihan ngedance(tugas akhir sekolah), Asysya juga ketemu mbak Sayank. --***-- Asysya tiap jumat pergi ke toko buku Azzahro. Dan doski kenalan+sering ngobrol-ngobrol ma mbak yang shift di situ. Suatu Jumat doski dikasih tau ma mbak Kam(yang jaga toko buku) bahwa tanggal 16 Desember 2007 bakal ada bedah buku YES UJIANKU SUKSES, pembicaranya Fatan Fantastic. --***-- Asysya izin ke ortunya untuk menghadiri acara tu, tapi ayahnya bilang gak boleh. Tapi Asysya teuteup keukeuh untuk menghadiri acara tu. Doski nekat brangkat ma mbak Lia n V3(tetangganya). Mereka jalan kaki ke Bigstone terus naik mini bus ke Attaqwa(acaranya di situ). Di perjalanan Asysya baca bukunya V3 KETIKA MAS GAGAH PERGI sampai tersedu sedan boy/girls karena ceritanya yang begitu tragis yaitu dengan meninggalnya Mas Gagah di hari ulang tahun adiknya, dan Mas Gagah menghadiahkan jilbab. Setelah sampe di Taqwa, mereka diangkut(kayak sapi deeh) oleh mobil angkota entah ke mana. Setelah mereka sampai, ternyata doski dibawa ke SDIT. “Itu mbak Kam n mbak Fifin. Kayaknya sibuk beud.” batin Asysya. Ia kemudian registrasi seperti peserta yang laen. Ia binun(bingung) mau ikut syapa, gag da yang doski kenal. “Nah itu dia, mbak Lia n V3.” batinnya. Mbak Lia n V3 kemudian registrasi juga. Asysya juga ketemu mbak Isna, akhwat(saudara perempuan-jamak) yang kemaren di Azzahro. Mbak Isna sempet-istilah Jawanya- pangling ma Asysya,tapi masih bisa mengenali. Asysya juga ngeliat mbak Arum –yang kemarin juga ketemu di Azzahro- tapi mbak Arum kayaknya gak liat. Acara dimulai. Muhammad Fatan Ariful Ulum itulah nama pembicaranya. Beliau asyik, lucu pula. di acara ni ada juga senam biar gak pikun yaitu dengan 6 gerakan jari n tangan. Da doorprize tapi yang dapet orang Purwantoro. “Ketua FAROHISnya, masyaallah Ghodul bashor(menundukkan pandang) beud,, teduuuhhh sekaaaliiii.” batin Asysya. Dari kontribusi Asysya dapet snack n stiker. Acara selesai. Asysya pulang. Sampai rumah Asysya ditanyai ayahnya,”Kenapa tadi gak pamit?” “Asysya dah bilang kalo mau ikut acara bedah buku.” jawab Asysya ketus. --***-- Hari selanjutnya. Asysya terbangun dari tidur malamnya. Ia kucek matanya yang berat di buka bagai ditaburi tepung-tepung syetan. Trus, ia buka pintu kamarnya, ia pandangi jam dinding yang berada di atas kursi tidur ruang keluarga. Setengah tiga, hamdalah pun terucap karena doski gak terlambat bangun. Kemudian doski ayunkan kakinya untuk cuci muka dan wudlu ke kamar mandi yang berada di kamar ibunya itu. Ia lanjutkan sholat Tahajud terus sholat Witir. Setetes..dua tetes..tiga tetes air hangat menyembul dari sudut matanya. Ia memanjatkan doa pada Sang Penguasa Langit dan Bumi. Heningnya malam menjadi penambah kekhusyu’an hati dan kesyahduan munajat. Seperti biasa Asysya melakukan kegiatannya namun 1 hal yang lain, ia mandi lebih awal karena ingin menghilangkan rasa kantuknya. Pukul 6 pagi, ia aktifkan kartunya. Ternyata ada some messages yang masuk, satu diantaranya adalah dari mbak Sayank. Ass.syank, mb mhon pmit ya. Mb’ mo tgl d Btu & smuany srba buru2..td jm 2 brngktny & mf mb’ blm pmit ma smua. Smntra kjian ma mb’ika SDIT..mfkn ats smua kslhn mb’ slm niya.slm mnis,rindu,syank u tmn2 smua t’utma yg blm pgang HP..meski jauh d mta dkt dlm hti. Slmt bjuang syank,miss u all. (19:47:53) 17-12-07. Duarrr..!!! Hatinya serasa pecah,remuk redam bagai kapal dihantam gelombang ganas disertai karang. Hancur berkeping-keping mengalahkan bom yang meledak di kedubes yang menyebabkan kedubes tinggal menjadi puing-puing. Hatinya tersayat-sayat..nan tertusuk duri. Hanya luka yang ditaburi garam yang terasa. 1 bulir,2 bulir, 3 bulir air hangat menyelusup ingin keluar tak sabar dari sudut matanya. Makin lama makin deras. Bulu kuduknya berdiri seketika. Miris rasanya, perpisahan yang terjadi antara ade’ dengan kakak, antara guru dengan murid, antara sahabat dengan sahabat. Sungguh semua terjadi begitu cepat. Bagai petir menyambar, bagai kilat yang menjilat-jilat, semuanya begitu cepat. Cepat bak supersonik melaju di lintasan arena pertandingan. Tiada yang menyangka, tak terkecuali Asysya, kun fayakun(jadilah maka jadi). “Orang yang pantas dipuji adalah orang yang bisa tersenyum ketika hatinya serasa tersayat.” batin Asysya tertohok mengingat kalimat yang pernah ia baca pada buku SMILE UP, GUYS! (Afifah Afra). “Kenapa aku dulu gak langsung ngasih bingkisan itu ke mbak Sayank? Kalo aja udah aku kasih pasti aku bisa lega.” batin Asysya sambil memandangi bingkisan kecil yang ingin ia berikan pada mbak Sayank dulu. Ia seka air mata yang mengguyur pipi tembemnya. Asysya pun berangkat sekolah seperti biasa. “Sa, kamu dapat SMS dari mbak Sayank gak?” tanyanya dengan wajah penuh ingin tau. “Iya.” jawab Salsa dengan tenang. Pertanyaan yang sama ia lontarkan pada Yaya. Jawaban sama pun ia terima. Seketika ia duduk dan menulis semuanya, semua isi hatinya. Mbak Sayank… Ke mana ukhti kan pergi Ke mana ukhti kan berteduh Ke mana ukhti kan bawa buah hati ukhti? Mbak Sayank… Selamat jalan Selamat ukhti kan jadi ummi Selamat berjihad di sana Mbak Sayank… Di sini Asysya amat menyayangi ukhti Asysya kan ingat jasa-jasa ukhti Mbak Sayank… Semoga Allah membalas kebaekan ukhti Duhai Mbak Sayank… Tetaplah sayangi orang-orang di sekitarmu Tetaplah semangat tuk berjihad tegakkan dien-Nya,tegakkan asma-Nya Mbak Sayank… Asysya rindu ukhti Rindu dari ade’ ke kakaknya Rindu dari mutarobbi(murid) pada murobbinya(guru) Rindu dari seorang sahabat pada sahabatnya Tuhan sampaikan sejuta salamku untuknya “Padahal aku sangat menyayanginya, seperti kakakku sendiri tapi kenapa Allah mengambilnya, memindahkannya ke laen tempat. Ya Allah sampaikan sejuta salamku untuknya.” batinnya. Walau begitu Asysya masih sering SMSan sama mbak Sayank.Walau jauh di mata dekat di hati itu yang masih ia ingat. Berjalannya hari seolah memupuskan sesediahan yang ia alami, menggantikannya menjadi warna-warna keceriaan, menggantikan kepompong yang buruk rupa menjadi kupu-kupu yang indah dilihat mata. Berjalannya waktu menjadikannya tegar dan optimis pada tantangan. Mungkin Tuhan punya rencana lain. Manusia hanya bisa menjalani, menjalani kehidupan ini dengan usaha yang kan mengantarkananya menuju jannah-Nya. Disetiap pertemuan pasti kan ada perpisahan dan disetiap perpisahan kan ada pertemuan. Ketika ia merasa kesulitan dalam bidang agama ia tanyakan pada mbak Sayank yang dibalas dengan sepenuh sayang menjadikan mereka jauh di mata namun dekat di hati, urusan pribadi pun tak luput diceritakan Asysya, mulai VMJ(Virus Merah Jambu)nya dengan teman-temen(laki-lakinya), urusan sama ortu, temen yang gag mengenakkan, dsb. Asysya pun mengetahui kehidupan mbak Sayank,, mbak Sayank, seorang anak dari keluarga yang broken home, hanya menamatkan sekolah sampai SMP, ingin kejar paket tak terlaksana, di rumah hanya dengan simbah. Ayah dan ibunya berpisah. Asysya miris mengetahui kehidupan mbak Sayank, tapi ianya begitu tegar, ianya ikuti kajian yang membuat ianya tegar seperti ini, tujuan hidupnya hanya untuk ALLAH, untuk beribadah kepada ALLAH itu yang membuatnya tegar. Asysya ingin sepertinya,tegar! Namun, setelah ianya punya anak, kini ia pindah ke Batu. Hari-hari kini ia jalani seperti biasa. Tiap Jumat ia masih mengunjungi Azzahro dan gag datang ke PMI. Sekarang ia curhat masalah rumah pada mbak Kam2(salah satu penjaga Azzahro). Mereka dekat sekali. Walau belum kenal jauh mbak Kam2 bisa akrab dengan Asysya. Hari-hari menjelang ujian Asysya jarang ke Azzahro. Jika ada pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak tak sabar ia tahan maka ia bertanya pada mbak Sayank/mbak Isna/mbak Kam2/mbak Ani. --***-- Setelah ujian. Alhamdulillah Asysya lulus dengan nilai memuaskan dan diterima di sekolah favoritnya. Ia mengunjungi Azzahro, tapi mbak Kam2 jarang ada di situ. Kadang harus buat janji dulu kalo mau ketemu mbak Kam2.Alhamdulillah akhir-akhir ini kelas X da gladi bersih senam di Pringgondani jadi doski bisa mampir ke Azzahro dan criting-criting sama mbak Kam2, yang sebelumnya harus diSMS dulu biar nanti tak kecewa bila mbak Kam2 gag ada. Asysya pun menceritakan kegagalannya memakai pakaian taqwa-berjilbab-. Tak luput urusan rumah pun ia ceritakan. Membuat kelegaan menyusup diam-diam di hatinya. Itulah cewek ingin didengarkan, kadang mungkin ia ingin nyampah(curhat_menumpahkan kata-kata yang terangkai menjadi cerita ia tumpahkan pada orang lain) yang hal itu sudah bisa menjadikannya lega. Suatu hari doski diajak kajian mbak Fifin(kakak kelasnya) yang dulu juga ikut bedah bukunya Afifah afra. Nama kajiannya TATSQIF, acaranya di SKANSA(SMK N 1 Wonogiri). Hari itu doski mau senam, tapi sebelum itu doski mampir ikut tu kajian. Doski melihat mbak Kam2 di sana. Doski n plends ngobrol-ngobrol dulu ma mbak Kam2. “Dhe’, saya mau ngelanjutin sekolah ke Solo n gak njaga Azzahro lagi.” katanya pada mbak Al Matin(Akhwat kelas XII yang aktif di FAROHIS-forum aktivis kerohanian islam-) Asysya mendengar kata-kata itu bagai petir menyambar ulu hatinya. Ia terisak-isak tak karuan. “Ya Allah, hamba sudah kehilangan seorang murobi, apa Engkau akan mengambil mbak Kam2. Padahal belakangan ini hamba begitu dekat ma mbak Kam2. hamba kira di SMA ni hamba bisa leluasa curhat ma mbak Kam2, hamba kira belio bisa membina saya tapi belio akan ke Solo ngelanjutin sekolah.” batinnya Memang beberapa hari ini Asysya begitu dekat pada mbak Kam2. Karena da senam dia bisa mampir dulu ke Azzahro. Dia udah cerita banyak beud tentang dirinya. Mbak Kam2 udah tau gimana Asysya, tapi sekarang belio mau sekolah ke Solo. Betapa sedihnya Asysya. Air matanya tak bisa dibendung. Mengalir deras sederas air terjun Niagara. Untuk kedua kalinya ia harus kehilangan murobi(guru). Dulu udah mbak Sayank sekarang mbak Kam2. Mbak Kam2 mencoba menenangkannya. Fathy(sahabat dekatnya) pun mencoba menenangkannya. Bulu kuduknya berdiri. Ia menangis bagai dunia ini gak da lagi yang bisa dia ajak curhat lagi. Tak henti-henti ia menangis, menangis deras menganak sungai, sungguh pedih rasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 2, saatnya ia harus ke Pringgondani untuk senam, ia buru-buru mencari toilet untuk mengghapus serta menyeka air matanya. Ia pergi ke Pringgondani sendirian, tak peduli orang-orang melihat matanya bengkak dan kelopak matanya cekung sekali. --***-- Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Hari berganti pekan, pekan berganti bulan. Sekarang Asysya liqo dengan bu Erlin(guru BKnya). Bu Erlin; guru yang juga aktivis, enak diajak curhat, lucu, pinter hebat ruhiahnya, akalnya berisi, fisiknya-qowiyul jism/jasmaninya kuat-. Asysya curhat dengan bu Erlin. Rasa-rasanya 2 orang murobinya telah tergantikan. Apa yang baik menurutmu belum tentu baik menurut Allah dan begitu sebaliknya. Rasanya Allah telah mengganti 2 orang murobi dengan yang lebih baik lagi. “Ya Allah, apa yang Engkau berikan adalah yang terbaik untuk hamba.” Lirihnya. (real:+-95%; imajinasi:+-5%)
Readmore >>

ARAL ITU MENDEWASAKANNYA-CERPEN

ARAL ITU MENDEWASAKANNYA Hari ini, hari pertama aku masuk sekolah dengan penghuni yang –insyaALLAH- sebagian besar belum kukenal. Hari ini aku masuk ke sekolah yang sejak dahulu kuidam-idamkan, sekolah favorit di kabupatenku, SMA N 1 Wanagiri. Pagi ini, aku menuju kelas sebelah setelah aku tak menjumpai namaku di draft penghuni kelas itu(X1). Di depan kelas itu terpampang plakat berwarna cokelat bertuliskan ‘Kelas X2’ berukuran sedang, kumasuki kelas itu. Dan kutemukan kertas yang di sana tertoreh namaku Azzam Azizah Istiqomah nomor 3 dari atas, ya namaku memang terhilat seperti nama laki-laki, entah orang tuaku kenapa menamaiku seperti itu, nama, pasti orang tuaku mempunyai makna tersendiri dengan nama itu. Namun, ketika orang tuaku memanggilku bukan diambil dari ketiga nama itu, mereka memanggilku Asysya. Orang tuaku, aku suka dengan orang tuaku, mereka itu kadang aneh tapi bagiku itu kreatif. Orang tuaku bagai sumber inspirasiku. Mereka bagaikan pelita di relung hatiku, mereka taat beribadah, mereka berpengetahuan luas, mereka pintar ngomong, dan membuatku tak ingin jauh-jauh dari mereka. Ayahku sarjana sosiologi, kuliah di UNS dan ibuku juga kuliah di UNS tapi sarjana psikologi. Sekarang mereka mejadi guru, ibuku mengajar BK di SMP N 1 Sidoharja dan ayahku mengajar di SMA N 2 Wanagiri. Setiap ada kajian ahad pagi aku diajak sehingga aku bisa bertemu teman sebayaku dari mana-mana, rumahku di Desa Daha Kecamatan Girimartha, kadang bertemu teman dari Jathisrana, Sidoharja, Wanagiri, dan sebagainya. Kadang jika bertemu kami saling menceritakan keadaan ROHIS masing-masing sekolah. Di sekolah aku mengikuti kegiatan ROHIS dan jurnalistik. Banyak masalah yang terjadi di ROHIS sekolahku, mulai dari asistensi yang dipending, dan insyaALLAH akan ganti baju(baca:nama), hubungan dengan guru yang kurang baik, dan sebagainya. Tapi masalah itu tak sabar ingin keluar ketika aku bertemu ayah ibuku. Dan alhamdulillah mereka sangat membantu. Cerita yang sering bertubi-tubi menempaku menjadi seorang yang cerewet di kelas. Alhamdulillah di jurnalistik sebagian besar juga anak ROHIS. Sehingga lebih mudah menyatukan visi misi. Di kajian Ahad pagi aku punya teman namanya Jilan. Dia sekolah di SMA N 1 Wonogiri, kasihan dia walaupun namanya terlihat islami namun ayah ibunya kurang mendukung aktivitas kerohanian, sehingga setiap ingin menghadiri kajian dia harus berhadapan dengan ayahnya dulu, menghadapi pertanyaan dari ayahnya. Namun dengan pertanyaan itu hatinya selalu berdag-dig-dug ria,dan hal itu membuat dirinya semakin merasakan keindahan hidup,lika-liku dan jalanan terjal membuat mentalnya tahan banting. Berjilbab dengan istiqomah pun menjadi hal yang tak diperbolehkan oleh ayahnya, sehingga walaupun di sekolah ia belum berjilbab di rumah jika ada kegiatan ia memakai jilbab, dan alhamdulillah ayahnya membolehkan, namun disertai tatapan melihat dari atas sampai bawah. ROHIS di sekolahnya pun sangat bermasalah, perizinan yang dipermasalahkan oleh sekolah, asistensi dan kegiatan ROHIS ditentang guru, dan teman-teman anggota ROHIS saja mengira bahwa dirinya ekstrim padahal sesungguhnya tidak. Ini semua tanggungjawabnya karena dia adalah koordinator nisa’nya. Namun dengan otak dingin dan pikiran jernih ia selalu menghadapi itu semua dengan baik, sehingga mengikuti ROHIS menjadikannya lebih dewasa, menjadikan hidupnya lebih berarti. Dia beranggapan bahwa masalah-masalah itu adalah bumbu-bumbu dakwah, bumbu-bumbu yang akan mendewasakan dirinya, bumbu-bumbu keindahah hidupnya, mungkin jika tidak ada masalah dirinya akan biasa-biasa saja dan cenderung kurang dewasa. Aku sedikit iri dengannya, dirinya benar-benar bisa dewasa dengan aral-aral itu namun aku yang masih dibayang-bayangi orang tuaku. Aku belum bisa menunjukkan bahwa this is me, namun dia sudah. Ya aku yakin seyakin-yakinnya, haqqul yaqin, pasti suatu saat aku juga akan di dewasakan oleh aral-aral itu, tunggu saja tanggal mainnya… Temand-temand yakinlah bahwa aral-aral ini kan mendewasakan qta. Aral-aral ini kan menjadi bumbu dan penyedap hidup ini dan dakwah ini. CERITA INI BERISI SUATU FAKTA YANG TERPISAH-PISAH. NAMUN DENGAN IMAJINASI.
Readmore >>

PERIKU SEBELUM TIDURKU-PUISI

Aku ingin pergi Pergi ke pulau tak bertuan Aku ingin menangis sejadi-jadinya Aku ingin membuang semua duka lara Aku ingin pergi Ke negeri bertuan ibu Agar aku bisa menangis di peluknya Agar aku bisa menumpahkan butiran hangat di pangkuannya Aku ingin lari Lari menembus kesedihan Namun kesedihan pun mengejarku Aku punya lara yang sebenarnya punya orang lain Namun aku merasakannya Dan orang itu tak tau apa-apa Orang itu hanya mengira kami baik-baik saja Kasihan dia Sebenarnya dia punya lara tapi dia tak tau Dan tidak mencoba ingin tau Dia terlalu percaya Dibalik kegagahannya, terselip rasa minder Dia terlalu percaya Percaya pada semuanya Entah apa yang akan terjadi jika dia tau Ya Rabbi, tunjukilah kami jalan lurus-Mu Palingkanlah ianya dari orang itu Orang jahat itu Orang jahat yang telah merubah periku ketika aku kecil Yang mengajarkanku membaca surat annas, al falaq, dan al ilkhlas sebelum tidurku Yang dulu aku perebutkan dengan kakaku Ya Rabbi, kembalikanlah ianya seperti dulu Hingga hati ini tak lapar Hingga hati ini tak haus Hingga hatu ini merasakan kasih sayangnya yang tulus lagi Hingga hati ini tersenyum kembali Jadikanlah senyumnya tulus untuk kami Bukan senyum karena orang jahat itu Bukan senyum palsu Senyum tulus dari peri, periku sebelum tidurku…
Readmore >>

JANGAN ADA BEBAN-PUISI UNTUK YANG INGIN MENCICIL MENJADI PENULIS

JANGAN ADA BEBAN Tulis saja apa yang kau pikir Menulislah lepas, bebas tanpa beban yang menggelayut di dada Hai otak, ajaklah tanganmu menari di atas lembar putih, kuning, pink ato hijau Biarkan ianya mengejawantahkan apa kata hatinya dalam gerak tangannya Merangkai kata yang bermakna Atopun tak bermakna Jangan ada beban bahwa menulis itu untuk materi, Menulis itu untuk prestige, Untuk award Jangan pikirkan saudaraku Karena ianya hanya akan membuat kita tak bisa merangkai kata demi kata yang membentuk kalimat Yang selalu ingin berkarya
Readmore >>

Hati Jadi Happy-PUISI

Ya Rabbi, jadikanlah kami tetap tersenyum dalam duka dan lara kami Jadikanlah kami tetap menegakkan tubuh meski kami dalam gontai Jadikanlah mulut kami tetap tertarik ke kanan dan ke kiri meski hati ini terluka Jadikanlah hati ini tersenyum meski hati ini merasakan luka yang ditaburi garam Apa yang harus kami lakukan ya Rabbi… Hati ini sakit Rumah ini sakit Penghuninya sakit Lara ini sakit Duka pun juga sakit Kasihan…. “Duka kamu sakit apa?” Tanya lara “Duka tak tau, duka sakit apa. Kalo lara sakit apa?” duka balik bertanya. “Aku juga gak tau, Tanya aja ma hati. Emmm… hati di mana ya? “Hati, hati sakit apa? Hati sakit, hati lara dan duka.” “Ehmm.. kita berteman adjah ya?” Tanya lara “Gak ah.. aku gak mau temenan ma kalian.!” Kata hati memberontak “Aku maunya berteman sama happy.” Tambahnya “Happy, aku pengen temenan ma kamu, boleh ya, please!!” “Gimana ya,, ya deeh tapi kami gak boleh nakal ya.” “Ya..Lara, duka aku pergi dulu ya.. da….” Alhamdulillah akhirnya hati jadi happy…^_^ hati juga senyum…
Readmore >>