[Kaderisasi] Dualitas Fungsi R'nB: Fungsi Organisator & Fungsi Peningkatan Kapasitas Diri!

Bismillaah…

Adakah yang sudah paham mengenai hal ini? Jikalau sudah ya alhamdulillaah, namun bagi yang belum perlu membaca tulisan ini. J
Konsep itu sudah termaktub di Buku Putih R’nB pada halaman 113 dengan judul Konsep Kaderisasi R’nB. Dengan sub judul Prinsip Kaderisasi R’nB. Penjelasan mengenai Dualitas Fungi R’nB:

1.    Fungsi organisator. Fungsi ini merujuk pada Kaderisasi sebagai Kultur Gerakan.
a.     Pada prinsip ini lebih menekankan bagaimana kaderisasi itu merupakan budaya bersama, jadi bukan budaya segelintir orang (missal HRD saja, iya HRD ialah pengelola yang lebih concern, namun kita semua wajib bertanggung jawab atas kaderisasi di R’nB).  
b.     Pada prinsip ini pula kaderisasi R’nB ialah jiwa gerakan mengkader. Jiwa ini merupakan karakter dan mentaslitas dari setiap kader dengan feeling berbagi serta feeling untuk membina. Dan jiwa dan feeling ini perlu diterapkan untuk setiap kader, jadi bukan sekedar hak, beban, atau kewajiban.

2.    Fungi peningkatan kapasitas diri. Fungsi ini merujuk pada dua prinsip selanjutnya, yakni Kaderisasi Berorientasi pada Hasil dan Kaderisasi yang Komprehensif (Menyeluruh) dan Integral (sebagai Kesatuan).
a.     Kaderisasi Berorientasi pada Hasil. Kaderisasi di R’nB berorientasi pada output. Sedangkan output R’nB ialah SDM. Jadi kaderisasi berorientasi pada pencapaian kapasitas pribadi(SDM) yang unggul, tangguh, dan professional. Dengan orientasi minimal pencapaian IKK (Indeks Kompetensi Kader).
b.    Kaderisasi yang Komprehensif (Menyeluruh) dan Integral (sebagai Kesatuan). Dalam sub poin prinsip ini, ada beberapa breakdown darinya. Breakdown Kaderisasi yang Komprehensif dan Integral:
                                             i.            Kaderisasi menyangkut beragam aspek dengan mengembangkan beragam potensi dan kompetensi kader. Hal ini berkaitan dengan IKK R’nB. IKK tersebut bisa menjadi standar minimal kompetensi yang perlu dikembangkan R’nBers sesuai dengan potensi dirinya.
                           ii.             Kaderisasi adalah turunan langsung dari visi R’nB. Visi R’nB ialah melahirkan technopreneur yang profesional dan tangguh yang mampu berperan dalam membangun daya saing bangsa.
                                          iii.            Seluruh ragam aktivitas R’nB yang dilakukan oleh berbagai tingkat dan bagian organisasi R’nB merupakan pencapaian tujuan kaderisasi R’nB. Jadi seluruh aktivitas yang terselenggara, baik di tiap tingkatan (Basic, Middle, Expert) maupun tiap bagian (per divisi) merupakan pencapaian tujuan dari kaderisasi di R’nB(yakni mencetak Technopreneur).  
                                        iv.            Sehingga segala aktualisasi kader baik di intra atau pun ekstra organisasi adalah bagian dari proses kaderisasi R’nB. Hal ini bisa dikaitkan dengan pemenuhan IKK. IKK bisa dipenuhi dengan kegiatan dari luar R’nB, semisal mengenai leadership, R’nBers tidak harus mengadakan kegiatan semisal di R’nB, mereka bisa saja mengikuti LKMM PD, LKMM D, atau LKMM M yang sudah biasa terselenggara.  
                                                            
Begitu kawan-kawan. Kayak kuliah umum ya? Hahaha :Dv

Nah, apasih maksud penulis share mengenai hal di atas? Maksudnya ialah ketika kita sudah masuk menjadi (setidaknya) anggota R’nB maka kita perlu memerhatikan konsekuensi yang kita terima di belakangnya. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya ialah bisa seimbang menjadi organisator dan kapasitas diri pun terupgrade.

Penulis akan mencoba share penyakit teman-teman aktivis yang perlu diperhatikan dan dihindari:
1.      Mahasiswa prestatif à individualis, egois, maunya menang sendiri, dan pelit informasi/ sharing.
2.      Mahasiswa aktivis organisasi/ kegiatan à aktif sana sini, kuliah/ pengkaryaan terbengkalai.

Kedua tipe mahasiswa itu bagus, namun konsekuensi di R’nB ialah bisa menyeimbangkan antara keduanya, menjadi aktivis yang juga prestatif(kapasitas diri ter-upgrade). Secara keorganisasian dan leadership dia bisa mengelola tim serta memiliki skill meng-organize dan secara keilmuan dia aktif belajar, berkarya, dan mengaplikasikan hasil belajar dan berkarnya itu di masyarakat. Namun, lebih baik aplikasi ke masyarakat itu diterapkan dengan sistem buttom up. Bagaimana maksudnya? Maksudnya ialah seseorang mencari permasalahan real yang ada di masyarakat, disurvei, diteliti, kemudian setelah ia mempelajarinya maka solusi akan muncul dari sana dan solusi itu ialah karya yang diaplikasikan di masyarakat. Dan jangan lupa, kalau di R’nB tidak hanya sebagai aplikasi di masyarakat, namun juga dikomersilkan. J Jadi kita sebagai mahasiswa benar-benar solutif di masyarakat, bukan malah buat-buat masalah (memaksakan ide kita di masyarakat dan mencari masalah di masyarakat sesuai ide kita). Hehehe.
Jadi, kita belum bisa disebut R’nB sejati jika kedua hal itu masih timpang. Perlu keseimbangan antara bisa meng-organize dan selalu meng-upgrade kapasitas diri kita(khususnya sesuai bidang keilmuan kita).    

Readmore >>

Masa Transisi Aktivis Unyu ke Mahasiswa Tingkat Akhir

Bismillaah

Tak terasa tingkat tiga pun sedang dialami. Masa ini serasa masa transisi, dari yang semula bisa bersenang-senang dan bersemangat di kegiatan ini itu, menjadi mahasiswa yang sudah perlu memikirkan masa depan(kerja, studi lanjut, nikah, dsb).

Olala, melihat pamphlet/ info kegiatan, forum nasional, traveling, lomba, dan semacamnya itu layaknya tampang anak kecil yang melihat anak kecil lainnya makan permen. Huhuhu… Huaaa. Mupeng. Hha.

Sebenernya pun hal seperti ini terserah, kita mau lulus tepat waktu atau lulus pada waktu yang tepat, sesuai pertimbangan, keadaan, situasi, dan kondisi masing-masing. Namun, tidakkah kita berpikir mengenai orang tua kita yang tlah berlelah-lelah membanting tulang untuk kita dan menginginkan kita untuk lulus segera? Ya seperti keumuman orang tua, ingin semuanya lancar dan anaknya segera menerima gelar sarjana. Namun ya ada pilihan lain juga(lulus pada waktu yang tepat), yakni kita berwirausaha atau mencari uang dan membiayai biaya kuliah dengan uang itu. Namun, hal-hal semacam itu kan perlu dikomunikasikan ke orang tua, agar tidak terjadi misskomunikasi atau persepsi yang berbeda, sehingga kita bisa sefrekuensi juga dengan orang tua.

Dari sedikit uraian di atas berarti bisa dikategorikan:
  .       Lulus ontime. Bisa segera menyongsong fase selanjutnya. Namun, jika kita mau lulus ontime, coba diperhatikan perbekalan(skill) paska kampus, apakah sudah benar-benar terisi. Agar kita bisa survive di belantara kehidupan itu. Jika sudah ya monggo.

2.   Lulus pada waktu yang tepat. Lulus pada waktu yang tepat dan bertanggungjawab ialah menyelesaikan studi sesuai kondisi. Dengan biaya tambahan di luar delapan semester ditanggung dirinya sendiri. Kau merasakan tak? Jika lulus lama dan masih dibiayai orang tua itu rasanya malu sekali. Sudah umur sekian tapi masih minta-minta ke orang tua.

Readmore >>

Move On Cara Menyelesaikan Tugas

Move on. 
Mungkin sulit untuk mencoba berpindah ke lain cara untuk menyelesaikan sesuatu, namun cobalah. 
Jangan kau buang waktu hanya untuk menyesal dan merenungi yang telah tiada, padahal ada cara lain yang bisa digunakan untuk menyelesaikan tugas itu meski tak sesempurna dia. 
Sabar.
Tetep semangat. 
Jangan berlarut melihat suatu fatamorgana.
Padahal yang nyata pun ada, meski tak sesempurna yang diharapkan. 
Segera selesaikan, sebelum yang lain mengantri di belakang. 
Cukup ucapkan "qodarullaah wa maa syaa'a fa'al"
Dan jadikan pelajaran berharga.
Readmore >>

Apa yang Sudah Diberikan

Tak usah banyak menuntut lah, coba sekarang pikir, apa yang sudah kau berikan ke sana?
Kau menuntut ini itu, namun apa yang tlah kau perbuat?
Ok kritis, tapi pikir juga gimana menangani masalah seperti itu, bukan hanya mengkritik tajam namun minim solusi. 
Dinginkan kepala
Tundukkan sebentar jika silau dengan segala permasalahan yang ada
Sahabat... Mari berjalan bersama
Kami rindu kebersamaan di antara kita
Kami rindu canda dan tawamu
Maaf jika memang belum bisa mengerti dan memahamimu
Karna kondisi sedang kritis
Waktu berjalan dan keputusan harus segera diambil
Kau luka, kami pun luka ketika kau putuskan tiada
Buat apa kita memendam luka, komunikasikan saja, agar semua jelas dan tiada asumsi, persepsi, dan miskomunikasi di antara kita
Kesempurnaan itu milik-Nya
Kita hanya berusaha bersama, agar saling melengkapi, dan menuju titik hampir kesempurnaan itu
Sudah kau tunjukkan rasa kepemilikanmu, namun cobalah lebih
Lebih memiliki lagi, bukan menerca dengan segala kondisi yang ada
Readmore >>

Ibu yang Baik

Ibu yang baik bisa membuat anak-anaknya mendekat padanya dan bercerita tentang keluh kesah mereka. Menasihati dengan lembut dan memahami kondisi mereka, bukan dengan marah-marah. Pertimbangkan, bukankah marah itu akan semakin membuatnya(si anak) terpuruk (?)
Ibu yang baik selalu terbuka atau menunjukkan sikap welcome pada anaknya, bukan yang sibuk dengan #karirnya

Komunikasi harus terus terjalin. Menyinkronkan makna 'bahagia' sesuai kesepakatan bersama, bukan persepsi tiap pihak yang mungkin saja berbeda. Bahagia itu bukan melulu tentang uang. Tapi bagaimana hati bisa kaya dan lapang.

https://www.facebook.com/masdhiana/posts/576938649039948
Readmore >>

Pentingnya sebuah pengertian


Ketika kita membutuhkan orang lain dan memulai perbincangan, latihlah agar tidak langsung pada poin requirement kita
Namun... Cobalah pahami bagaimana posisi dan kondisi ianya saat ini
Karena tidak setiap orang yang kita butuhkan sedang dalam kondisi "on", dalam artian tidak semua orang yang kita butuhkan siap menanggapi permasalahan yang sedang kita hadapi
Mungkin ianya sedang terkena masalah bertubi-tubi atau yang lainnya, kita tak tau
Tak sadarkah diri kita bahwa ianya juga manusia, manusia yang perlu dimanusiakan

Wahai kau tipe to the point, cobalah pahami orang lain dengan tidak langsung menembak orang itu
Namun, ketahuilah posisi dan kondisinya baru kau ungkapkan kebutuhanmu padanya
Agar sama-sama enak dan tidak asal tembak
#ArfOfLife
Readmore >>

Metode berkontribusi


Cara tiap orang berkontribusi tak sama
Begitupun karunia Allaah membedakan potensi manusia
Ada yang dengan lisannya
Ada yang dengan tulisannya
Ada yang dengan tindakannya
Tak usah terlalu banyak menuntut dan mengeluh
Cukup maksimalkan potensi yang telah diberikannya

Seperti hukum use and disuse
Semakin sering digunakan maka akan semakin terlatih
Begitupun cara berkontribusi itu
Semakin sering dilakukan naluri kita semakin terlatih
Dan jam terbang kita pun meninggi

Apresiasi usaha setiap orang untuk berkontribusi
Karna hal sekecil apapun kan tetap berarti
Jika tiada ia mungkin kan seperti sayur tanpa garam
Kecil, remeh, namun timbulkan kesan ada yang kurang

Biarlah orang berkembang sesuai track passionnya
Biarlah ia menjadi kupu-kupu indah sesuai inginnya
Biarlah kita jadi pelangi, yang berwarna warni
Biarlah kita menjadi puzzle, yang saling melengkapi

#youthcontribute
 
Readmore >>

Perjalanan dan Kesyukuran: Pengmas Realita dan Keluarga Baru yang Baik


Bismillaah

Berawal setahun yang lalu yakni pada acara Musyawarah Regional III, penulis mengetahui akan adanya kegiatan Pengabdian Masyarakat Realisasi Hasil Penelitian (Pengmas Realita), namun penulis pesimis untuk ikut. Hingga mendekati hari H, dari admin R’nB ada yang mengabari penulis agar mengikuti acara itu.

Dan hari H berlangsung. Penulis dan teman-teman ke sana bersama rombongan Unnes. Beberapa hari di sana kami menemukan permasalahan, potensi alam, pengalaman baru, dan juga kawan-kawan baru dari berbagai penjuru Indonesia. Kami dari berbagai penjuru dengan bahasa, kebudayaan, dan logat yang berbeda-beda. Dan hal itu melatih kepekaan kami untuk membedakan logat dari setiap daerah.

Setelah hari H, dibuatlah grup facebook Pengmas Realita III. Ya biasalah, paska acara ada foto-foto dan cerita-cerita yang dibawa dari sana.

Pada tahun ini, penulis mengikuti Pengmas Realita lagi. Ada beberapa orang alumni Pengmas Realita III yang juga mengikuti Pengmas Realita IV.

Kami sehidup senasib di sana. Saat itu Pengmas Realita III dilaksanakan di Jember dan Pengmas Realita IV dilaksanakan di Banten. Namanya juga Pengabdian Masyarakat, bukanlah kepraktisan yang kami dapat, namun kami perlu berjuang, survive, dan mau susah dengan situasi dan kondisi yang ada.

Setelah itu pun dibuat grup Pengmas Realita IV dan ada beberapa tulisan serta foto-foto yang mengalir dari fikir teman-teman peserta. Selain itu, karena rumah penulis di Wonogiri, maka penulis bisa mampir ke UNS (Universitas Sebelas Maret) Solo. Akhir-akhir ini penulis sering mampir ke UNS. Penulis mencoba mengulik comdev di Solo. Dengan bantuan teman-teman SIM penulis bisa mengikuti kegiatan SABS (Sekolah Alam Bengawan Solo) dan salah satu agenda SIM, padahal tidak diundang. Hehehe.

Tidak hanya sebatas itu, komunikasi dan silaturahim tetap kami jaga, yakni via grup FB, grup BBM, SMS, atau social media yang lain. Sebuah kesyukuran ialah kami bisa sharing mengenai konsep keilmiahan di universitas lain, sehingga bisa terjadi transfer ilmu dan mungkin bisa saling melengkapi.

Kecocokan yang kami rasakan mungkin karena passion yang sama, selain itu kami bisa nyaman karena sama-sama mau diajak susah dan mau berbagi. Kebaikan-kebaikan pun bisa dirasakan, seperti peserta yang perhatian satu sama lain(keep contact) atau ketika kami travelling di lain daerah ada kawan di sana yang bisa disapa dan dikunjungi, sehingga urusannya jadi lebih mudah. J    

Readmore >>

[Catatan dari Dosen] Rasulullaah Mengajarkan Keilmiahan - Referensi, Sitasi, atau Daftar Pustaka

Bismillaah

Ini ialah hasil bimbingan PKL yang pertama dengan dosen yang pertama, hhe. Pada saat itu bapaknya menjelaskan bagaimana Islam telah mengajarkan keilmiahan. Kok bisa? Iya bisa :P

Biasa memerhatikan ga kenapa hadist itu buntutnya panjang banget kayak gelar? #eh. Sampai kita mungkin agak males untuk membacanya karena sitasi atau jalur periwayatannya yang panjang banget. Buntut itu namanya sanad hadits, sanad itu jalur periwayatan. Contoh sanad: dari si A, dari si B, dari si C, dst. Hadits yang bisa dijadikan landasan ialah hadits yang shahih (benar), ya ga Guys? J Hadits yang tidak sampai ke Rasulullaah, hadits karangan(maudhu’), atau sanadnya lemah(dhaif) maka hadits itu tidak dapat dijadikan sebagai referensi.  

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan dia ambil tempat duduknya di neraka.” HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3
Nah lhoh, ga mau kan disuruh mengambil tempat duduknya di neraka? Hhe. So, ambil hadits yang pasti-pasti aja J Pasti bener.

Eh btw mengenai hadits Dhaif, ini ada beberapa rincian syarat bagaimana saja hadits Dhaif bisa dipakai.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Sedangkan hadits dho’if diperselisihkan oleh para ulama -rahimahumullah-. Ada yang membolehkan untuk disebarluaskan dan dinukil, namun mereka memberikan tiga syarat dalam masalah ini,

[Syarat pertama] Hadits tersebut tidaklah terlalu dho’if (tidak terlalu lemah).
[Syarat kedua] Hadits tersebut didukung oleh dalil lain yang shahih yang menjelaskan adanya pahala dan hukuman.
[Syarat ketiga] Tidak boleh diyakini bahwa hadits tersebut dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tersebut haruslah disampaikan dengan lafazh tidak jazim (yaitu tidak tegas). Hadits tersebut hanya digunakan dalam masalah at targhib untuk memotivasi dan at tarhib untuk menakut-nakuti.”

Yang dimaksudkan tidak boleh menggunakan lafazh jazim adalah tidak boleh menggunakan kata “qola Rasulullah” (رَسُوْل اللهِ قَالَ), yaitu Rasulullah bersabda. Namun kalau hadits dho’if tersebut ingin disebarluaskan maka harus menggunakan lafazh “ruwiya ‘an rosulillah” (ada yang meriwayatkan dari Rasulullah) atau lafazh “dzukiro ‘anhu” (ada yang menyebutkan dari Rasulullah), atau ”qiila”, atau semacam itu.

Jadi intinya, tidaklah boleh menggunakan lafazh “Qola Rosulullah” (Rasulullah bersabda) tatkala menyebutkan hadits dho’if.
Kyaaaa :D ini malah kita bahas hadits Dhaif ya? Haha. Back to topic.

Ketika hal ini dianalogikan maka seperti kalau kita menulis karya ilmiah, maka perlu ada referensi, sitasi, atau daftar pustaka. Sebuah data yang valid perlu ada asal/ sumber data itu diambil, kita tidak bisa mengambil data secara sembarangan. Karna itu sebagai wujud tanggungjawab ilmiah pada orang-orang yang membaca karya tulis kita. Ya ga? Dan so pasti dalam membuat karya yang ilmiah tidak mungkin kita mengabaikan sumber data(referensi, sitasi, atau daftar pustaka), karna karya yang kuat atau sarat keilmiahan atau sarat makna ialah karya yang dibuat dengan data-data penunjang.

Jadi, sudah jelaskan ternyata Rasulullaah pun mengajarkan pada kita untuk ilmiah, dari sumber-sumer yang kita pakai dalam menjalani hidup ini. Dan hal itu terefleksi dalam karya ilmiah yang memerlukan referensi, sitasi, atau daftar pustaka yang valid agar karya itu lebih sarat keilmiahannya.

Referensi:
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/bolehkah-menggunakan-hadits-maudhu-dan-hadits-dhoif-566

Readmore >>

Pentingnya memahami dan 'mengajak berjalan', agar dia ma(mp)u "pergi dari sini ke sana"

Bismillaah


Ada sebuah kasus. Ada kompetisi, salah satu sub divisinya ialah membuat software. Ini ialah tahunnya untuk berkompetisi, setelah sebelumnya kakaknya yang maju dan ia melihat kompetisi itu. Pada awalnya ia ragu dengan keputusan mengiyakan ajakan kakak tingkat itu untuk mengikuti kompetisi itu, namun karena ia pikir bagaimana nanti jika tidak ada yang bisa menjadi tim itu, kasihan kan kakak tingkatnya. Kemudian ia beranikan menghubungi kakak tingkatnya dan mengiyakan ajakan untuk masuk ke tim itu. Ia berproses di sana, namun karna kakak tingkatnya belum menyelesaikan tugas akademiknya, maka sang kakak lebih focus pada tugasnya. Itu ialah kakak yang mengikuti lomba itu dua tahun di atasnya dan kakak yang satu tingkat di atasnya sudah fokus pada tugas akademiknya juga. Ketika diajak untuk sepekan sekali bertemu dengan kakak tingkatnya, katanya beliau tak bisa. Ia yang buta seakan sedikit blank, siapa yang akan mengajarinya? T.T Ia yang tak begitu semangat di kompetisi itu memilih lebih aktif di kegiatannya yang lain. Hingga suatu masa, deadline lomba pun kan menyapanya. Tinggal satu pekan dia baru mau fokus. “Ke mana saja kau Nak?” Mulai hari-hari itu dia blank dan bingung harus bagaimana. Trouble pun terjadi pada dirinya. Karna ia harus mengoding dengan bahasa yang baru ia tahu dan seharusnya itu dikerjakan oleh orang yang sudah biasa menggunakannya, bukan newbie sepertinya. Ia seharusnya mengerjakan program itu, namun faktanya ia malah banyak menulis pengalamannya dan hikmah di baliknya. Hingga H-3 ia bertanya di FB: “Apa jadinya jika seorang anak kecil yang belum bisa berjalan tetiba kau suruh berlari?” Ada dua yang menjawab.

NA: Jatoh" an mba anaknya...mgkin lebih baik diajarkan berjalan dulu sblum berlari Hehe
Tepat, itu yang dirasakannya. Ia merasa terjatuh. Beberapa hari seperti orang tak jelas. Dan sisi introvertnya meningkat. Asam lambungnya pun meningkat. Suram sekali. Selain pendapat itu, ada pula yang berpendapat seperti di bawah ini.

MAM: bengong, karena anak tidak bisa langsung memahami perkataan, yg dia tahu adalah meniru aksi
kalo orangtuanya berlari secara konsisten, boleh jadi dia akan berusaha sekuat tenaga utk meniru berlari
Ini pun yang ia rasakan, terbengong-bengong setiap hari, merenung, melihat lampu, dan semacamnya. Ia bingung musti belajar ke siapa dan serasa tiada yang bersamanya. Ia merasa ditinggalkan. Ia membutuhkan motivasi, sedikit sentuhan pembelajaran, dan teman-teman yang kompak untuk mengimbangi dirinya yang kurang semangat itu. Karna dari awal ia rasa kekompakan/ koordinasi kurang dan transfer dari kakak tingkat juga kurang.

Inilah pentingnya kita mau memahami orang lain. Jika kita menjadi kakak, cobalah lebih memahami/ peduli pada adiknya. Menanyakan bagaimana kabar projectnya. Jika ada masalah maka bersama menyelesaikan, tidak asal pergi. Serta pembimbingan itu tetap perlu dilakukan, agar project itu pun terkontrol. Karna mereka ke sini kan juga tanpa bekal dan mereka butuh belajar.

Mungkin ini yang ia rasakan, tidak mudah untuk pergi dari sini ke sana, dalam kesendirian dan tanpa bimbingan seorang kakak. Sang kakak perlu sedikit memahaminya kenapa dia bisa seperti itu dan bersama mengeksekusi solusi. Jika kita tlah di sana, seharusnya kita bertanggungjawab dalam menyelesaikannya. Ini bukan urusan dengan si A si B, namun ini urusan dengan Allaah. Itulah hikmah yang bisa kita petik tentang tanggungjawab dan mencoba lebih mengerti serta memahami serta “mengajak berjalan”. Agar apa yang menjadi tujuan bersana bisa terselesaikan dengan hasil memuaskan, setidaknya melegakan.   
Readmore >>

Lakukanlah Semampumu

Rasulullaah mengajarkan pada kita untuk tetap menanam 1/2 biji kurma meski esok hari kiamat.
Orang-orang terdahulu tetap mempelajari ilmu / mendiskusikan ilmu meski beliau" sakit. 
Jika tak bisa melakukan semua, maka jangan meninggalkan semua.

Mungkin implementasinya hampir sama dengan ketika kita masih mempunyai sedikit tenaga maka berkontribusilah semampu kita.
Jika kita hanya mampu berkontribusi 1/2 hari lakukanlah, jika kita hanya bisa berkontribusi 1 hari lakukanlah. Sebelum kita benar" tak berdaya di pembaringan.

#cmiiw

Alhamdulillaahiladzi bini'matihi tatinnushsholihat 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=662104517190027&set=a.595751493825330.1073741830.100001714536452&type=1


Readmore >>

[Nilai-nilai Bekal Survive]


Ketika kanak-kanak kita mungkin akan mudah merekam segala kejadian. Pendidikan karakterpun bisa diselipkan di sana. Semisal nilai-nilai kejujuran dan tanggungjawab.
Nilai-nilai itu sebagai bekal ketika mereka dewasa. Karna itu yang kan mereka bawa dan kan mereka aplikasikan. 
Cepat atau lambat seorang anak akan berpisah dengan orang tuanya. Entah karena merantau kuliah, bekerja, atau telah menikah.
Jika orang tua tidak membekali nilai-nilai itu dalam terapan real, bagaimana si anak akan survive di dunia belantara itu(?)
Anak yang biasa diprotect dan diatur, paska ia jauh dari orang tuanya dan tiada yang memprotect dan mengaturnya, bagaimana dia bisa settle mengatur dirinya sendiri, ketika sang orang tua tidak memberi clue-clue untuk mengatur diri(?)
Jika si anak sering didekte, siapakah yang kan mendektenya ketika tlah berpisah dengan orang tua (?) Padahal cepat atau lambat mereka kan berpisah dengan orang tuanya.
Anak yang biasa dimanja dan diberi kenikmatan, bagaimana ia jika suatu saat ia dihadapkan pada kehidupan yang memang keras (?)
Bukankah generasi yang bagus ialah generasi yang bisa melahirkan generasi yang lebih bagus daripada generasi masanya (?)


https://www.facebook.com/masdhiana/posts/670544916345987
Readmore >>

Lelah


Lelah itu mungkin karna kita yang kurang menikmati
Kita yang kurang senang
Kita yang kurang bahagia dengan keadaan
Atau pikir kita lelah 
Terlalu dipaksa ini itu
Yang ternyata kita tak mampu
Lelah kan kau rasa jika kau tak bahagia
Karna ketika kau senang, rasa senang itu kan menjadi tirai bagi kelelahanmu
Bersenanglah dan bersemangatlah
Beberapa hal menanti tuk dijamah 

Lelah mungkin kau rasa karna kau memundak fatamorgana berat
Padahal ia biasa saja
Yang membuat berat ialah pikir/ respon kita pada sesuatu
Jika kita menilainya berat, respon dari diri kita pun kelelahan
Namun jika kita biasa saja dan segera menuntaskannya, berat jadi tak terasa.


https://www.facebook.com/masdhiana/posts/670824049651407
Readmore >>

Mencari Teman Diskusi

Pribadi-pribadi itu mencari yang setipe dengannya.
Pribadi-pribadi itu mencari yang seteritori.
Mereka butuh cerita dan berbagi.
Mereka butuh mengungkapkan perasaan diri dan perlu menanyakan apa yang menjadi tanya hati.
Bertukar pikiran, berbagi, dan berdiskusi, agar persoalan yang dihadapi slama ini terpecahkan.
Saling mengingatkan dan saling menginspirasi, agar diri keluar dari sengketa yang menyelimuti.

https://www.facebook.com/masdhiana/posts/670829259650886
Readmore >>

[Mengolah Empati] Sakit sebagai Refleksi Diri, Bukan untuk Balas Dendam ke Orang Lain

Guys, pernahkah kau merasa sakit atas sikap orang lain? Pernahkah kau merasa mengenaskan karena tiada yang perhatian? Pernahkah kau merasa tersobek-sobek hatinya karna (tu)lisan seseorang yang tetiba menghampirimu karna ulahmu? (baik frontal ataupun main belakang)

Nah, jika pernah gimana reaksimu? Ada beberapa peluang reaksi di sini. (1) Membalas orang itu (2) Merefleksikan ke dalam diri dan berjanji tidak melakukan hal sejenis, karna ternyata menyakitkan (3) Acuh. Yang mana yang kan kau pilih? Hehehe.

Ada beberapa kasus nih, yang bisa kita tarik garis kesimpulannya.

Kasus 1. Kita sakit, tepar, terkapar di kamar kost tak berdaya. Di saat seperti itu kita tidak bisa apa-apa dan tiada seorang-pun yang tahu keadaan kita. Apa yang kan kita lakukan? Untuk orang yang easy going ya bisa aja nyuruh temennya beliin makanan, namun untuk orang yang gak suka merepotkan orang lain(?) mungkin hanya beberapa teman dekatnya saja yang ia berani repotkan. Nah, dari kasus semacam ini, jika sudah ada pertanda tidak sedap dari teman yang sakit(contoh update status aneh atau blak-blakan bilang sakit), segera responsive untuk memberi pertolongan pada dia, pedulilah padanya tanpa dipinta. Karna saat itu merupakan saat yang sangat ia butuhkan untuk ditolong serta diperhatikan. Apalagi anak kostan, tau sendiri-lah.

Kasus 2. Pernahkah ada seseorang yang menyindirmu di status (berpotensi cyber war haha) (?) Atau pun yang frontal, tanpa emot smile yang menenangkan, dia mengkritikmu seperti itu (?) jika pernah, gimana perasaanmu? Hehehe. Jika kau peka atau perasa, pasti kau bisa sampai sedu sedan karna hal itu, karna ternyata kau tlah berbuat kesalahan dan merugikan orang lain, yang itu tak kau sengaja, namun itulah kelalaianmu. Jika kau pernah merasakannya dan sakitlah yang ada, maka apakah sekarang kau kan perlakukan hal itu pada orang lain(?) kau kan mengkritiknya dan kau mengkritik tanpa emot smile(?) Karna itu seperti kritik yang kurang bersahabat. Janganlah Guys, itu bak luka bertabur garam rasanya. Jika kau ingin mengkritik seseorang cukup sampaikan empat mata saja. Selain lebih mengena, itu juga yang diajarkan Nabi Muhammad Sholallaahu ‘alayhi wa sallam, apalagi mengkritik pemimpin.

Ibnu Hibban berkata: “Nasehat wajib kepada manusia seluruhnya.. akan tetapi wajib dengan secara rahasia, karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan maka ia telah mencelanya, dan siapa yang menasehatinya secara rahasia, maka ia telah menghiasinya..” (Raudlatul ‘Uqala hal 196).
Imam Asy Syafi’I berkata: “Nasehatilah aku ketika sendirian, dan jauhi nasehat di depan jama’ah. Karena nasehat di tengah manusia adalah salah satu macam mencaci maki yang aku tidak suka mendengarnya.. (Mawa’idz imam Asy Syafi’I 1/23).    
Kesimpulannya di sini ialah jika tidak ingin dipukul yang jangan memukul dan kalau kita ingin dijenguk saat sakit ya jenguklah orang lain yang sedang sakit. Hhe. Paham kan? Pahammmmm! :D

Readmore >>

Yes Man dan Pertanggungjawaban di Akhirat

Menjadi yes man itu ternyata tidak baik Guys. Btw, udah tau yes man kan? Yes man itu orang yang selalu mengatakan “ya” ketika diberi berbagai macam task, ia mengatakan “ya” karena kasihan, tidak tega, khawatir tidak ada orang lain yang mengerjakan, dan semisalnya, intinya perasaan tidak enak ketika menolak permintaan orang lain karna prasangka-prasangka dirinya. Ia menggunakan asas iba dalam implementasi kehidupannya.

Ada suatu kisah nih. Ada yes man. Ia tidak tega menolak lobby kakak tingkat untuk mengikuti lomba. Namun, ia baru tahu bahwa ia yes man dan lebih semangat pada aktivitas yang disukainya (ia belum begitu menyukai project dari kakak tingkatnya itu). Project itu tak begitu tersentuh. Hingga suatu hari ia musti mengajukan permohonan dana. Nano-nano ia rasakan, bagaimana pertanggungjawaban di akhirat untuk kasus semacam ini. Uang dari jurusan, fakultas, universitas itu untuk berprestasi, namun apa yang terjadi (?) Apa yang sudah dilakukan (?) Astaghfirullaah. Bagaimana kelak ia mempertanggungjawabkan di akhirat.

Itu kasus pertama. Ada pula yes man yang sampai men-dzolimi dirinya sendiri. Kok bisa? Iya, karena dengan ia jadi yes man, ia mengiyakan semua permintaan teman-temannya. Namanya fisik punya keterbatasan kan, nah dia sok kuat menjalankan semua permintaan itu dengan tidak memerhatikan fisiknya. Sakitlah ia. Subhanallaah. Please jaga dirimu dan jaga kesehatanmu. Kasihan juga orang tua jika kita sakit-sakitan, beliau jadi mikir-mikir juga kan.

Selain men-dzolimi diri sendiri, bisa saja jadi yes man itu men-dzolimi orang tua. Lho kok bisa? Iya, bisa. Contoh mahasiswa perantauan, kemudian ia mengiyakan semua permintaan teman-temannya, ia jadi susah pulang. Orang tua di rumah yang tlah merindukannya tak jua bertemu dengannya. Padahal orang tua juga punya ha katas dirinya. Apalagi kalau ternyata kita punya tugas dakwah ke orang tua. Dan kita malah aktif di luar, tanpa memerhatikan orang tua kita. Astaghfirullaah. Lebih perhatikan orang tuamu, dekati beliau, agar hidayah pun menyapa beliau-beliau.


Itu beberapa kasus yes man. Mungkin teman-teman mengetahui teman yang seperti itu atau teman-teman sendiri merasakannya? Hhe. Bercermin yaa J

Nah, kasus-kasus di atas, hikmah yang bisa diambil ialah belajarlah tegas. Belajarlah tegas ketika orang lain meminta tolong dan lebih selektif ketika membantu orang lain. Pilih task yang sesuai dengan passion kita, agar mudah mengerjakannya karena lebih semangat dalam mengerjakannya. Pilih task yang sesuai visi dan misi kita, agar task itu bisa sebagai latihan menuju goal kita. Ketika orang lain meminta tolong, mungkin kita bisa meminta waktu sejenak untuk berpikir apakah kita bisa membantunya atau tidak. Ini biasanya task yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama sih. Tapi yang situasional dan kondisional ya, kita tegas, tapi fleksibel juga. J



Readmore >>

#2 Play with SABS: Ekspedisi 30 Jam di Mulai! :D

Bismillaah

Setelah mereka mengerjakan tugas mendata bangunan, peristiwa, orang, dan kuliner serta sudah laporan pada mas Jefri, kami menuju Gor Manahan. Di jalan itu kami menanyai ibu-ibu penjaja makanan. Karena kami tidak mengetahui jalan, maka kami bertanya pada orang di sekitar sana, namun qodarullaah kami kek diputer-puter gitu, huhuhu. Kami menyusuri jejalanan lagi serta menjalankan tugas yang diberikan dan alhamdulillaah kami bertemu mas jefri. Setelah bertemu mas Jefri, kami sholat Dhuhur bersama di Masjid Al Amin. Setelah sholat kami makan siang. Namun qodarullaah, dik Fety menangis karena gatelnya semakin parah dan melebar. Kami kebingungan dengan situasi yang ada. Mbak Yulia dan mbak Linda memberi Salep, namun ia belum jua menangis. Ya iyalah, rasanya panas dan gatel serta daerah lukanya membesar, kasihan sekali dia, penulis tak tega dengannya. Kemudian penulis mengusulkan untuk membawa ke dokter. Dibawalah ia ke dokter anak, namun terus gimana gitu trus dik Fety dibawa pulang. Dia terkena jamur. Dan kami melanjutkan perjalanan. Sedih juga sih, satu pasukan berkurang, yang tersisa ialah mas Jefri, penulis, Yulia, dan 4 anak lainnya.

Setelah dari masjid itu, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Balapan. Menuju Stasiun Balapan kami bertemu dengan pemulung yang berpenghasilan Rp 40.000,00- Rp 5.000,00 per hari. Setelah itu kami menemukan Pasar Nongko, masuklah kami ke pasar itu. Di pasar itu kami menanyai ibu-ibu penjual tabungan(celengan) dan lainnya. Keluar pasar, kami menemukan penjual-penjual tanaman, masuklah kami melihat-lihat bunga itu. Si Abhi berhasil membawa kaktus kecil. Setelah kami melihat-lihat bunga atau tanaman di sepanjang jalan itu, alhamdulillaah kami sampai di Stasiun Balapan Solo. Di stasiun itu kami bertemu pada mas-mas arsitek UNS 2009, beliau sedang men-sketsa gambar Stasiun Balapan. Ketika bertemu dengan masnya, kami melihat-lihat hasil karyanya (ternyata banyak juga sketsa karyanya) dan ngobrol dengan beliau juga yang ternyata adik tingkat mas Jefri di UNS. Setelah berbincang dengan mas arsitek, namanya mas Galih, kami memasuki stasiun itu. Kemudian keluar dan melanjutkan perjalanan ke UNS. Kami tidak ke Monumen Banjarsari, karna saat di masjid tadi kami beristirahat cukup lama. Selanjutnya ialah ke UNS.


Perjalanan ke UNS itu kami bertemu dengan bapak-bapak penjual alat rumah tangga yang berjalan dari jam 7 hingga malam hari dengan mendorong grobak. masyaAllaah sekali bapaknya. Kami bertemu dengan beliau paska sholat Ashar di masjid. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami berhenti di depan SMA N 2 Solo, yang ternyata bersebelahan dengan SMA N 1 Solo dan kami membeli minuman di sana. Di depan SMA N 1 Solo adiknya menanyai salah satu mbak yang bersekolah di sana. Adiknya bertanya nama, alamat, dan enak tidak sekolah di SMA N 1 Solo. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan bertemulah kami dengan jembatan yang di bawahnya dilalui kereta api. Kami menunggu sesaat untuk bisa melihat kereta api yang sedang berjalan dan merasakan berapa di atasnya. Beberapa menit setelah di sana, kami melihat kereta api melaju. masyaAllaah sekali, mendengar deru kereta api dan melihat gerbong-gerbong itu berjalan. Setelah itu, lanjut lagi, kami mampir di masjid untuk sholat Maghrib di masjid dekat UNS. Kami sholat di sana kemudian berjalan hingga sampailah kami di NH. Wah, sedih harus berpisah dengan mereka, namun ya bagaimana lagi. Penulis berpamitan dengan mereka dan melanjutkan pulang ke Wonogiri.
Yang penulis rasanya ialah rasa salut pada adik-adik SABS, karena mereka tidak mengeluh dan tidak menyusahkan selama perjalanan.  Selain itu, penulis terkesima dengan mereka yang sejak kecil sudah diajari untuk bereksplorasi dengan alam/ lingkungan sekitar.

Dan ini ada tulisan lain yang penulis tulis dari jalan-jalan bersama mereka:

Pergilah ke mana pun kau kan pergi
Namun tetaplah ingat bahwa kau pun perlu kembali ke rumah asalmu
Raihlah hal yang tertinggi, namun ingatlah bahwa kau perlu berbagi
Karna setiap rizki yang tlah diberikan Allaah, ada rizki orang lain di sana (tak mutlak untuk kita)
Apatah yang tlah kau bagi?

Kehidupan ini tak berlangsung lama
Apa guna kau nanti esok jika sekarang pun bisa
Apa guna gelarmu mahasiswa
Jika untuk masyarakat saja kau tiada

"Carilah peluang di celah kebutuhan masyarakat itu", itu kata guru
Jadilah membumi
Yang bisa menyentuh pelosok negri
Bukan sekedar retorika tak berarti

Jadilah menepi
Ke pinggiran kehidupan
Agar kau tau luka mereka
Mengolah empati dan rasa

#rintihanMalam


Dari teman" SABS kemaren kita belajar kepekaan sosial. Ketika mengetahui peristiwa unik, kita diminta mendokumentasikan hal itu. Contohnya ialah warga yang pindah rumah dan barang"nya diangkut dengan becak.
Dokumentasi lewat foto dan tulisan. Sejak kecil mereka tlah dididik untuk peka pada sosial. Agar mereka tergerak tuk bertindak.
Selain peristiwa, kita juga diminta mendokumentasikan profil orang dan bangunan. 
MasyaAllah sekali, salah satunya kita menemukan bapak" penjual peralatan rumah tangga dengan grobak dorong yang berjalan dari jam 7 pagi hingga malam.
Bangunan yang didokumentasikan salah satunya ialah pasar. Selain mereka mendokumentasikannya, mereka juga bertanya" pada penjual di pasar itu. Salah satunya mbah" penjual celengan (tabungan).

Oya, selain itu mereka diminta untuk mendata kuliner.

["Pergi dari Sini ke Sana" Selama 7 Jam Cah Bocah]
Jadilah layaknya cahbocah itu, mereka "Pergi dari Sini ke Sana" tak banyak pikir dan takut.
Padahal mereka hanya anak kecil. Di jalan banyak mobil, motor, mereka melewati ril kereta api, mungkin bisa bertemu orang gila, preman, atau orang lain bisa menjahati mereka.
Namun, apakah mereka berpikir dan takut akan hal itu? Mereka berani. Mereka berani "Pergi dari Sini ke Sana". Mereka pun menyelesaikan tugas dengan perlahan. Mereka menjalankannya dengan tingkah polos dan lucu mereka. Rekaman peristiwa-peristiwa buruk belum menyapa mereka. Lupakan peristiwa-peristiwa buruk itu. Mereka tak berhak menghambat langkahmu untuk "Pergi dari Sini ke Sana".
Mereka pun melangkahkan kaki yang pertama untuk bisa "Pergi dari Sini ke Sana" selama 7 jam!
Langkahkan kakimu. Jangan usik takutmu. Biarlah ia dalam tenang dan kau pun tak terganggu. Tersenyumlah pada kenyataan dan jalani. Ayunkan langkah pertama.  
Semangat!
Mungkin ini ya perbedaan anak yang sangat diprotect dan SO (Study Oriented) dengan anak yang dibebaskan bereksplorasi (namun bisa mengendalikan diri).

Anak yang diprotect dan SO akan didominasi ketakutan karena biasa dilindungi dan kurang dikenalkan dunia luar. 
Anak yang dibebaskan bereksplorasi (namun bisa mengendalikan diri) akan bisa cepat berkembang karena mereka dibiasakan mencoba hal-hal baru dan tidak takut untuk mengeksplor dirinya (dengan yang ada di sekitarnya).

Masih tentang 
Sekolah Alam Bengawan Solo 
#imo
#hikmahSABS


| Masdhiana Sukmawarni | Informatika Undip 2011 |
Readmore >>