Showing posts with label HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts

Kiat Hidup Lebih Tenang; Sadar Utuh, Hadir Penuh



Akhir-akhir ini, kita mudah dibuat tidak tenang saja oleh keadaan. Terutama karena support akan hadirnya covid-19. Namun, kontrok mutlak atas diri kita ya kita sendiri, kita masih bisa mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan dalam hidup kita. Apa sajakah itu? Yakni, perasaan, pemkiran, tindakan, dan penyikappan kita terhadap kehidupan sendiri.


Tidak bisa dipungkiri, kehadiran virus super kecil ini turut memicu stessor di sekeliling kita. Dengan anjuran #dirumahaja, untuk para pemula bukanlah hal yang mudah berdamai dengan keadaan ini, rasa bosan dan jengah pasti melanda. Belum lagi pemberitaan media, yang nampaknya semakin menge-downkan motivasi hari-hari kita. Pun, perihal keadaan ekonomi, bila pendapatan hariannya tergolong tidak menentu (bagi para wirausaha misalnya). Hal-hal demikian bisa memacu stress, terlebih bila kita tidak memiliki dan atau tidak menerapkan manajemen pengelolaan emosi ataupun manajemen stress.


Di media social, semisal instagram, semakin marak pula penggalakkan perihal mental health awareness, atau yang lebih dikenal seni menjaga kewarasan atau tema-tema bernada semisal. Nah, bagaimana pengelolaan emosi secara umum, atau khususnya di waktu pandemic. Bisa dicermati di bawah ini.


  1. Sadar penuh, hadir utuh. Hal ini bisa dilakukan sepanjang aktivitas harian kita. Pada pagi hari, sewaktu bangun tidur, kita bisa mengawali aktivitas dengan menyadari kondisi kita bangun tidur, beri waktu badan, pikiran, psikis untuk mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Hindari untuk langsung mengonsumsi social media atau buka HP (selain untuk cek jam). Aktivitas kecil mengumpulkan nyawa, bisa kita gunakan untuk menyadari kesadaran kita bahwa kita sudah bangun, menyadari perubahan dari kantuk menjadi terjaga, menyadari apakah ketika kita bangun, dalam kondisi fisik bugar ataukah pada njarem (karena olahraga misalnya), etc.
  2. Selain dikondisi bangun tidur, kita juga perlu menyadari penuh segala aktivitas yang kita kerjakan, dengan mengoptimalkan indrawi kita. Semisal dalam aktivitas mandi, dalam aktivitas beribabadah, dalam aktivitas (menikmati) makanan, dll. Serta ‘hanya’ menjalankan satu aktivitas di satu waktu, sehingga kita bisa focus terhadap aktivitas tersebut dan meminimalisis kesalahan.
  3. Sedangkan untuk sebelum tidur, kita bisa menutup hari dengan muhasabah/ mereview ulang sejenak hari kita. Menonaktifkan ponsel. Merasakan kembali reaksi fisik yang kita alami atas aktivitas seharian kita. Sehingga kita menyadari keadaan fisik kita. Men-scanning keadaan badan. Apakah ada lelah, apakah ada nyeri di area tertentu, apakah ada sakit, atau rasa-rasa tertekan di area tubuh yang lain. Dengan posisi lebih sadar tersebut, turut meningkatkan alarm tubuh kita, kita pun bisa melakukan upaya prefentif untuk menghindari sakit-sakit yang lebih parah.  


Hal simple itu dulu yang bisa kubagi, coba dilakukan saja. Ketika hal-hal itu benar-benar kita terapkan, insyaAllah bisa sedikit mengurai stress yang kita alami, mengalami kesadaran diri, dan mengurangi penyakit-penyakit fisik tersebab stress pikiran, perasaan ataupun emosi yang kita hadapi. Penyakit kronis, muncul dari stress-stres kecil yang tidak kita sadar, yang tertimbun, tanpa kesadaran control atas pikiran, perasaan, emosi, dan tindakan kita. Bila ada cerita di ranah dan area serupa, perihal control emosi dan penyakit fisik, nice untuk diobrolkan 😉

Readmore >>

Masa Transisi Aktivis Unyu ke Mahasiswa Tingkat Akhir

Bismillaah

Tak terasa tingkat tiga pun sedang dialami. Masa ini serasa masa transisi, dari yang semula bisa bersenang-senang dan bersemangat di kegiatan ini itu, menjadi mahasiswa yang sudah perlu memikirkan masa depan(kerja, studi lanjut, nikah, dsb).

Olala, melihat pamphlet/ info kegiatan, forum nasional, traveling, lomba, dan semacamnya itu layaknya tampang anak kecil yang melihat anak kecil lainnya makan permen. Huhuhu… Huaaa. Mupeng. Hha.

Sebenernya pun hal seperti ini terserah, kita mau lulus tepat waktu atau lulus pada waktu yang tepat, sesuai pertimbangan, keadaan, situasi, dan kondisi masing-masing. Namun, tidakkah kita berpikir mengenai orang tua kita yang tlah berlelah-lelah membanting tulang untuk kita dan menginginkan kita untuk lulus segera? Ya seperti keumuman orang tua, ingin semuanya lancar dan anaknya segera menerima gelar sarjana. Namun ya ada pilihan lain juga(lulus pada waktu yang tepat), yakni kita berwirausaha atau mencari uang dan membiayai biaya kuliah dengan uang itu. Namun, hal-hal semacam itu kan perlu dikomunikasikan ke orang tua, agar tidak terjadi misskomunikasi atau persepsi yang berbeda, sehingga kita bisa sefrekuensi juga dengan orang tua.

Dari sedikit uraian di atas berarti bisa dikategorikan:
  .       Lulus ontime. Bisa segera menyongsong fase selanjutnya. Namun, jika kita mau lulus ontime, coba diperhatikan perbekalan(skill) paska kampus, apakah sudah benar-benar terisi. Agar kita bisa survive di belantara kehidupan itu. Jika sudah ya monggo.

2.   Lulus pada waktu yang tepat. Lulus pada waktu yang tepat dan bertanggungjawab ialah menyelesaikan studi sesuai kondisi. Dengan biaya tambahan di luar delapan semester ditanggung dirinya sendiri. Kau merasakan tak? Jika lulus lama dan masih dibiayai orang tua itu rasanya malu sekali. Sudah umur sekian tapi masih minta-minta ke orang tua.

Readmore >>

Move On Cara Menyelesaikan Tugas

Move on. 
Mungkin sulit untuk mencoba berpindah ke lain cara untuk menyelesaikan sesuatu, namun cobalah. 
Jangan kau buang waktu hanya untuk menyesal dan merenungi yang telah tiada, padahal ada cara lain yang bisa digunakan untuk menyelesaikan tugas itu meski tak sesempurna dia. 
Sabar.
Tetep semangat. 
Jangan berlarut melihat suatu fatamorgana.
Padahal yang nyata pun ada, meski tak sesempurna yang diharapkan. 
Segera selesaikan, sebelum yang lain mengantri di belakang. 
Cukup ucapkan "qodarullaah wa maa syaa'a fa'al"
Dan jadikan pelajaran berharga.
Readmore >>

Metode berkontribusi


Cara tiap orang berkontribusi tak sama
Begitupun karunia Allaah membedakan potensi manusia
Ada yang dengan lisannya
Ada yang dengan tulisannya
Ada yang dengan tindakannya
Tak usah terlalu banyak menuntut dan mengeluh
Cukup maksimalkan potensi yang telah diberikannya

Seperti hukum use and disuse
Semakin sering digunakan maka akan semakin terlatih
Begitupun cara berkontribusi itu
Semakin sering dilakukan naluri kita semakin terlatih
Dan jam terbang kita pun meninggi

Apresiasi usaha setiap orang untuk berkontribusi
Karna hal sekecil apapun kan tetap berarti
Jika tiada ia mungkin kan seperti sayur tanpa garam
Kecil, remeh, namun timbulkan kesan ada yang kurang

Biarlah orang berkembang sesuai track passionnya
Biarlah ia menjadi kupu-kupu indah sesuai inginnya
Biarlah kita jadi pelangi, yang berwarna warni
Biarlah kita menjadi puzzle, yang saling melengkapi

#youthcontribute
 
Readmore >>

Perjalanan dan Kesyukuran: Pengmas Realita dan Keluarga Baru yang Baik


Bismillaah

Berawal setahun yang lalu yakni pada acara Musyawarah Regional III, penulis mengetahui akan adanya kegiatan Pengabdian Masyarakat Realisasi Hasil Penelitian (Pengmas Realita), namun penulis pesimis untuk ikut. Hingga mendekati hari H, dari admin R’nB ada yang mengabari penulis agar mengikuti acara itu.

Dan hari H berlangsung. Penulis dan teman-teman ke sana bersama rombongan Unnes. Beberapa hari di sana kami menemukan permasalahan, potensi alam, pengalaman baru, dan juga kawan-kawan baru dari berbagai penjuru Indonesia. Kami dari berbagai penjuru dengan bahasa, kebudayaan, dan logat yang berbeda-beda. Dan hal itu melatih kepekaan kami untuk membedakan logat dari setiap daerah.

Setelah hari H, dibuatlah grup facebook Pengmas Realita III. Ya biasalah, paska acara ada foto-foto dan cerita-cerita yang dibawa dari sana.

Pada tahun ini, penulis mengikuti Pengmas Realita lagi. Ada beberapa orang alumni Pengmas Realita III yang juga mengikuti Pengmas Realita IV.

Kami sehidup senasib di sana. Saat itu Pengmas Realita III dilaksanakan di Jember dan Pengmas Realita IV dilaksanakan di Banten. Namanya juga Pengabdian Masyarakat, bukanlah kepraktisan yang kami dapat, namun kami perlu berjuang, survive, dan mau susah dengan situasi dan kondisi yang ada.

Setelah itu pun dibuat grup Pengmas Realita IV dan ada beberapa tulisan serta foto-foto yang mengalir dari fikir teman-teman peserta. Selain itu, karena rumah penulis di Wonogiri, maka penulis bisa mampir ke UNS (Universitas Sebelas Maret) Solo. Akhir-akhir ini penulis sering mampir ke UNS. Penulis mencoba mengulik comdev di Solo. Dengan bantuan teman-teman SIM penulis bisa mengikuti kegiatan SABS (Sekolah Alam Bengawan Solo) dan salah satu agenda SIM, padahal tidak diundang. Hehehe.

Tidak hanya sebatas itu, komunikasi dan silaturahim tetap kami jaga, yakni via grup FB, grup BBM, SMS, atau social media yang lain. Sebuah kesyukuran ialah kami bisa sharing mengenai konsep keilmiahan di universitas lain, sehingga bisa terjadi transfer ilmu dan mungkin bisa saling melengkapi.

Kecocokan yang kami rasakan mungkin karena passion yang sama, selain itu kami bisa nyaman karena sama-sama mau diajak susah dan mau berbagi. Kebaikan-kebaikan pun bisa dirasakan, seperti peserta yang perhatian satu sama lain(keep contact) atau ketika kami travelling di lain daerah ada kawan di sana yang bisa disapa dan dikunjungi, sehingga urusannya jadi lebih mudah. J    

Readmore >>

[Catatan dari Dosen] Rasulullaah Mengajarkan Keilmiahan - Referensi, Sitasi, atau Daftar Pustaka

Bismillaah

Ini ialah hasil bimbingan PKL yang pertama dengan dosen yang pertama, hhe. Pada saat itu bapaknya menjelaskan bagaimana Islam telah mengajarkan keilmiahan. Kok bisa? Iya bisa :P

Biasa memerhatikan ga kenapa hadist itu buntutnya panjang banget kayak gelar? #eh. Sampai kita mungkin agak males untuk membacanya karena sitasi atau jalur periwayatannya yang panjang banget. Buntut itu namanya sanad hadits, sanad itu jalur periwayatan. Contoh sanad: dari si A, dari si B, dari si C, dst. Hadits yang bisa dijadikan landasan ialah hadits yang shahih (benar), ya ga Guys? J Hadits yang tidak sampai ke Rasulullaah, hadits karangan(maudhu’), atau sanadnya lemah(dhaif) maka hadits itu tidak dapat dijadikan sebagai referensi.  

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan dia ambil tempat duduknya di neraka.” HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3
Nah lhoh, ga mau kan disuruh mengambil tempat duduknya di neraka? Hhe. So, ambil hadits yang pasti-pasti aja J Pasti bener.

Eh btw mengenai hadits Dhaif, ini ada beberapa rincian syarat bagaimana saja hadits Dhaif bisa dipakai.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Sedangkan hadits dho’if diperselisihkan oleh para ulama -rahimahumullah-. Ada yang membolehkan untuk disebarluaskan dan dinukil, namun mereka memberikan tiga syarat dalam masalah ini,

[Syarat pertama] Hadits tersebut tidaklah terlalu dho’if (tidak terlalu lemah).
[Syarat kedua] Hadits tersebut didukung oleh dalil lain yang shahih yang menjelaskan adanya pahala dan hukuman.
[Syarat ketiga] Tidak boleh diyakini bahwa hadits tersebut dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tersebut haruslah disampaikan dengan lafazh tidak jazim (yaitu tidak tegas). Hadits tersebut hanya digunakan dalam masalah at targhib untuk memotivasi dan at tarhib untuk menakut-nakuti.”

Yang dimaksudkan tidak boleh menggunakan lafazh jazim adalah tidak boleh menggunakan kata “qola Rasulullah” (رَسُوْل اللهِ قَالَ), yaitu Rasulullah bersabda. Namun kalau hadits dho’if tersebut ingin disebarluaskan maka harus menggunakan lafazh “ruwiya ‘an rosulillah” (ada yang meriwayatkan dari Rasulullah) atau lafazh “dzukiro ‘anhu” (ada yang menyebutkan dari Rasulullah), atau ”qiila”, atau semacam itu.

Jadi intinya, tidaklah boleh menggunakan lafazh “Qola Rosulullah” (Rasulullah bersabda) tatkala menyebutkan hadits dho’if.
Kyaaaa :D ini malah kita bahas hadits Dhaif ya? Haha. Back to topic.

Ketika hal ini dianalogikan maka seperti kalau kita menulis karya ilmiah, maka perlu ada referensi, sitasi, atau daftar pustaka. Sebuah data yang valid perlu ada asal/ sumber data itu diambil, kita tidak bisa mengambil data secara sembarangan. Karna itu sebagai wujud tanggungjawab ilmiah pada orang-orang yang membaca karya tulis kita. Ya ga? Dan so pasti dalam membuat karya yang ilmiah tidak mungkin kita mengabaikan sumber data(referensi, sitasi, atau daftar pustaka), karna karya yang kuat atau sarat keilmiahan atau sarat makna ialah karya yang dibuat dengan data-data penunjang.

Jadi, sudah jelaskan ternyata Rasulullaah pun mengajarkan pada kita untuk ilmiah, dari sumber-sumer yang kita pakai dalam menjalani hidup ini. Dan hal itu terefleksi dalam karya ilmiah yang memerlukan referensi, sitasi, atau daftar pustaka yang valid agar karya itu lebih sarat keilmiahannya.

Referensi:
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/bolehkah-menggunakan-hadits-maudhu-dan-hadits-dhoif-566

Readmore >>

#2 Play with SABS: Ekspedisi 30 Jam di Mulai! :D

Bismillaah

Setelah mereka mengerjakan tugas mendata bangunan, peristiwa, orang, dan kuliner serta sudah laporan pada mas Jefri, kami menuju Gor Manahan. Di jalan itu kami menanyai ibu-ibu penjaja makanan. Karena kami tidak mengetahui jalan, maka kami bertanya pada orang di sekitar sana, namun qodarullaah kami kek diputer-puter gitu, huhuhu. Kami menyusuri jejalanan lagi serta menjalankan tugas yang diberikan dan alhamdulillaah kami bertemu mas jefri. Setelah bertemu mas Jefri, kami sholat Dhuhur bersama di Masjid Al Amin. Setelah sholat kami makan siang. Namun qodarullaah, dik Fety menangis karena gatelnya semakin parah dan melebar. Kami kebingungan dengan situasi yang ada. Mbak Yulia dan mbak Linda memberi Salep, namun ia belum jua menangis. Ya iyalah, rasanya panas dan gatel serta daerah lukanya membesar, kasihan sekali dia, penulis tak tega dengannya. Kemudian penulis mengusulkan untuk membawa ke dokter. Dibawalah ia ke dokter anak, namun terus gimana gitu trus dik Fety dibawa pulang. Dia terkena jamur. Dan kami melanjutkan perjalanan. Sedih juga sih, satu pasukan berkurang, yang tersisa ialah mas Jefri, penulis, Yulia, dan 4 anak lainnya.

Setelah dari masjid itu, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Balapan. Menuju Stasiun Balapan kami bertemu dengan pemulung yang berpenghasilan Rp 40.000,00- Rp 5.000,00 per hari. Setelah itu kami menemukan Pasar Nongko, masuklah kami ke pasar itu. Di pasar itu kami menanyai ibu-ibu penjual tabungan(celengan) dan lainnya. Keluar pasar, kami menemukan penjual-penjual tanaman, masuklah kami melihat-lihat bunga itu. Si Abhi berhasil membawa kaktus kecil. Setelah kami melihat-lihat bunga atau tanaman di sepanjang jalan itu, alhamdulillaah kami sampai di Stasiun Balapan Solo. Di stasiun itu kami bertemu pada mas-mas arsitek UNS 2009, beliau sedang men-sketsa gambar Stasiun Balapan. Ketika bertemu dengan masnya, kami melihat-lihat hasil karyanya (ternyata banyak juga sketsa karyanya) dan ngobrol dengan beliau juga yang ternyata adik tingkat mas Jefri di UNS. Setelah berbincang dengan mas arsitek, namanya mas Galih, kami memasuki stasiun itu. Kemudian keluar dan melanjutkan perjalanan ke UNS. Kami tidak ke Monumen Banjarsari, karna saat di masjid tadi kami beristirahat cukup lama. Selanjutnya ialah ke UNS.


Perjalanan ke UNS itu kami bertemu dengan bapak-bapak penjual alat rumah tangga yang berjalan dari jam 7 hingga malam hari dengan mendorong grobak. masyaAllaah sekali bapaknya. Kami bertemu dengan beliau paska sholat Ashar di masjid. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami berhenti di depan SMA N 2 Solo, yang ternyata bersebelahan dengan SMA N 1 Solo dan kami membeli minuman di sana. Di depan SMA N 1 Solo adiknya menanyai salah satu mbak yang bersekolah di sana. Adiknya bertanya nama, alamat, dan enak tidak sekolah di SMA N 1 Solo. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan bertemulah kami dengan jembatan yang di bawahnya dilalui kereta api. Kami menunggu sesaat untuk bisa melihat kereta api yang sedang berjalan dan merasakan berapa di atasnya. Beberapa menit setelah di sana, kami melihat kereta api melaju. masyaAllaah sekali, mendengar deru kereta api dan melihat gerbong-gerbong itu berjalan. Setelah itu, lanjut lagi, kami mampir di masjid untuk sholat Maghrib di masjid dekat UNS. Kami sholat di sana kemudian berjalan hingga sampailah kami di NH. Wah, sedih harus berpisah dengan mereka, namun ya bagaimana lagi. Penulis berpamitan dengan mereka dan melanjutkan pulang ke Wonogiri.
Yang penulis rasanya ialah rasa salut pada adik-adik SABS, karena mereka tidak mengeluh dan tidak menyusahkan selama perjalanan.  Selain itu, penulis terkesima dengan mereka yang sejak kecil sudah diajari untuk bereksplorasi dengan alam/ lingkungan sekitar.

Dan ini ada tulisan lain yang penulis tulis dari jalan-jalan bersama mereka:

Pergilah ke mana pun kau kan pergi
Namun tetaplah ingat bahwa kau pun perlu kembali ke rumah asalmu
Raihlah hal yang tertinggi, namun ingatlah bahwa kau perlu berbagi
Karna setiap rizki yang tlah diberikan Allaah, ada rizki orang lain di sana (tak mutlak untuk kita)
Apatah yang tlah kau bagi?

Kehidupan ini tak berlangsung lama
Apa guna kau nanti esok jika sekarang pun bisa
Apa guna gelarmu mahasiswa
Jika untuk masyarakat saja kau tiada

"Carilah peluang di celah kebutuhan masyarakat itu", itu kata guru
Jadilah membumi
Yang bisa menyentuh pelosok negri
Bukan sekedar retorika tak berarti

Jadilah menepi
Ke pinggiran kehidupan
Agar kau tau luka mereka
Mengolah empati dan rasa

#rintihanMalam


Dari teman" SABS kemaren kita belajar kepekaan sosial. Ketika mengetahui peristiwa unik, kita diminta mendokumentasikan hal itu. Contohnya ialah warga yang pindah rumah dan barang"nya diangkut dengan becak.
Dokumentasi lewat foto dan tulisan. Sejak kecil mereka tlah dididik untuk peka pada sosial. Agar mereka tergerak tuk bertindak.
Selain peristiwa, kita juga diminta mendokumentasikan profil orang dan bangunan. 
MasyaAllah sekali, salah satunya kita menemukan bapak" penjual peralatan rumah tangga dengan grobak dorong yang berjalan dari jam 7 pagi hingga malam.
Bangunan yang didokumentasikan salah satunya ialah pasar. Selain mereka mendokumentasikannya, mereka juga bertanya" pada penjual di pasar itu. Salah satunya mbah" penjual celengan (tabungan).

Oya, selain itu mereka diminta untuk mendata kuliner.

["Pergi dari Sini ke Sana" Selama 7 Jam Cah Bocah]
Jadilah layaknya cahbocah itu, mereka "Pergi dari Sini ke Sana" tak banyak pikir dan takut.
Padahal mereka hanya anak kecil. Di jalan banyak mobil, motor, mereka melewati ril kereta api, mungkin bisa bertemu orang gila, preman, atau orang lain bisa menjahati mereka.
Namun, apakah mereka berpikir dan takut akan hal itu? Mereka berani. Mereka berani "Pergi dari Sini ke Sana". Mereka pun menyelesaikan tugas dengan perlahan. Mereka menjalankannya dengan tingkah polos dan lucu mereka. Rekaman peristiwa-peristiwa buruk belum menyapa mereka. Lupakan peristiwa-peristiwa buruk itu. Mereka tak berhak menghambat langkahmu untuk "Pergi dari Sini ke Sana".
Mereka pun melangkahkan kaki yang pertama untuk bisa "Pergi dari Sini ke Sana" selama 7 jam!
Langkahkan kakimu. Jangan usik takutmu. Biarlah ia dalam tenang dan kau pun tak terganggu. Tersenyumlah pada kenyataan dan jalani. Ayunkan langkah pertama.  
Semangat!
Mungkin ini ya perbedaan anak yang sangat diprotect dan SO (Study Oriented) dengan anak yang dibebaskan bereksplorasi (namun bisa mengendalikan diri).

Anak yang diprotect dan SO akan didominasi ketakutan karena biasa dilindungi dan kurang dikenalkan dunia luar. 
Anak yang dibebaskan bereksplorasi (namun bisa mengendalikan diri) akan bisa cepat berkembang karena mereka dibiasakan mencoba hal-hal baru dan tidak takut untuk mengeksplor dirinya (dengan yang ada di sekitarnya).

Masih tentang 
Sekolah Alam Bengawan Solo 
#imo
#hikmahSABS


| Masdhiana Sukmawarni | Informatika Undip 2011 |
Readmore >>

Kurir Kue & Jamaah Danusiyyah

Bismillaah

Apa kabar kawan? Hhe pasti semua jawab baik. Padahal tolok ukur ‘baik’ satu orang dengan yang lainnya itu tak sama. Kali ini ,penulis pengen share sedikit pengalaman penulis. Hhe. Karena Unit Kegiatan Mahasiswa yang penulis ikuti lagi butuh dana dan ada penugasan LKMM DT ju, maka jadilah penulis mengadakan danus (dana usaha). Awalnya ya biasa, terpikir dengan kawan lainnnya untuk melakukan itu, yakni jualan kue, nah, ada ide lain, yakni meletakkan kue-kue itu di wisma kawan. Nah, untuk awalan penulis ke tempat penjualan kue yang (kalo diitung-itung) ya cukup mahal, margin keuntungan Cuma 200-300. Ada kekurangan, pasti ada kelebihan. Kelebihannya udah disediain tempatnya dan rasa tahu baksonya lebih enak. Putar otak, penulis nyoba ke tempat lain. Yang margin keuntungannya 500, meski tanpa disediakan tempat kue, alhasil belilah kami tempat itu (kardus box). Eh ternyata di kost penulis ada tempat kue :D Alhamdulillaah, jadilah pake tempat itu.

Hmm, tiap pagi penulis udah ngedrop makanan itu ke wisma dan ke temen. Awalnya berangkat jam 6, tapi karena kita langsung ambil barang di TKP (tanpa disiapin packing) jadilah jam 5an penulis ambil makanan itu. Hhe. Penulis ditemani adik tingkat yang kontrakannya dekar dengan kost penulis. Dari satu wisma ke wisma lain, nganter adik tingkat itu, dan nganter kue ke anik tingkat lain trus bareng ke kampus. Hmm Lucu juga sih jadi kurir kue. Jadi tau betapa gak mudah dapet duit itu. Mikir juga, tukang sayur yang effortnya segitu dengan karyawan kantoran/pegawai yang kek gitu. Dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang penulis petik:

1.       Jelaskan aturan main. Maksudnya di sini ialah clearkan untuk harga danusnya, jumlah danusnya, trus untuk yang ditaruh di wisma, ditulis ada @1500 dan lebih baik lagi kalo dikasih tempat untuk wadah uang.
2.       Adakan kesepakatan. Kesepakatan di sini ialah antara yang dititipi dan sang kurir sepakat yang dititipi mau ambil berapa. Usahakan yang dititipi memprediksi makanan apa saja yang disukai dan jumlahnya berapa. Jadi makanannya tepat sasaran dan habis.
3.       Jangan hanya semangat danus, perhatikan untung ruginya juga. Maksudny, kita usaha kan pengen untung (semua orang juga tau). Jangan sampe effort yang kita lakukan sama aja antara yang melakukannya dan yang tidak. Seumpama ada tempat yang kurang support untuk jualan di situ, ya pindah aja atau dikurangi jualannya. Perhitungkan cost, effort, tenaga, dll dengan laba yang diperoleh. Kalo laba lebih banyak ya silakan teruskan, kalo tidak yang dipikir ulang aja untuk jualan di sana. Kan tujun kita cari laba, di samping melatih skill dan memperluas jaringan, hhe.
4.       Buat laporan keuangan. Biar kentara tu laba dan ruginya, dibikin aja laporan keuangannya. Biar kita tau juga seberapa kemampuan/ daya beli temen-temen kita pas hari X.  jadi ada deskripsi untuk suatu hari (misal) dan ada prediksi kira-kira di suatu hari X jualan berapa biji. Evaluasi tiap hari.
5.       Value add. Jangan lupa bawa plastic dan tissue kalo jualan gorengan, hhe.
6.       Semangat untuk nawarin. Jangan malu, namanya pengusaha, ya harus PD untuk promo atau menawarkan barang, hhe.
7.       Lakukan upaya antisipatif. Kasih tau temen yang kita titipi, kalo pas sore danusnya masih banyak, tolong hubungi kita. Biar ada antisipasi penjualan danus itu. Yang semoga masih tetep untuk dan makanan juga masih layak konsumsi.
8.       Siap-siap aja punya uang yang banyak dengan nominal yang kecil. Hhe.

 Apa lagi ya? Hhe. Silakan menambahi. Subhanallaah banget, pagi udah keluar nganter danus, malem rapat sampe jam 10an. Semoga berkah dan ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. 
Readmore >>

Education Fair PB 2013: Motoran, Kenapa ke Luar Negeri, & Bekal Mendapatkan Beasiswa (by Teh Karin)

Bismillaah…


Alhamdulillah-alladzi bini'matihi tatimmush-shoolihaati
Terlaksana juga motoran: 
Semarang-Jogja
Jogja-Semarang
Kecepatan rata-rata, karena belum tau TKP dan bareng". 
Mantab dah Ambarawa, lawannya gedhe-gedhe. 
14/9/2013

Sebuah status setelah berhasil motoran ke Jogja =) Alhamdulillaah masih diberi kesempatan melihat indahnya dunia. Jumat tanggal 13 September 2013 kemaren aku, Airlangga Wiragalih, Yudrika Azka, dan Mega Ariyanti pergi ke Jogja. Kami berencana jam 18.30 berangkat, namun qodarullaah jam 7 kurang kami baru berangkat. Mantab juga rute ke Jogja malam hari, ada mobil, truk, atau kendaraan gedhe lainnya, membuat semakin tertantang, hhe. Lucu juga motoran kemaren tuh, aku biasa motoran cepet, pas awal Angga udah bilang, “Na, jangan cepet-cepet ya.” Namun keknya itu kurang ampuh, Angga melaju kadang tak sengaja aku mendahului, karena kecepatan yang lumayan dan males ngerem ^^V Abis itu kalo Angga di belakang, aku rada nunggu dia dengan memperkecil kecepatan :Dv kek gitu terus. Jam 10an itu aku baru sampai di kost Lusi Nur Rahmawati, temen Kongres 4 ILP2MI di Medan. Aku segera tidur dan ternyata Angga, Mega, dan Azka masih cari makan dan penginapan sampe jam 1. -_-

Paginya jam 6.30an Lusi mengajakku makan gudeg Jogja. Kami makan di tempat ummahat, hhe. Kalo gak salah totalan makan(dan minum) per orang tu 6.500, murah kan? =) Abis itu kita ke TKP (Gedung Grha Sabha Pramana), kami berangkat pagi karena khawatir kalo berdesak-desakan dengan peserta lain, karena yang mendaftar saja 2000 orang.

Jam 7.45 acara dimulai oleh dua orang MC dan jam 8.04 tambah 2 MC lagi, entah apa artinya, MCnya sampe 4, duplikasi. Jam 8.09 Lutfi Abdurrahman membacakan ayat suci Alqur’an. Jam 8.21 ada pertunjukkan seni Rampo. Ada beberapa hal yang aku perhatikan dari awal ini, yakni perkap yang sigap (dalam arti kalo ganti acara perkap membenahi apa yang terletak di podium), adanya pemotongan pita untuk pembukaan, dan snack untuk pembicara yang dikeluarkan sebelum pembiacara memasuki podium.
Acara ini resmi dibuka oleh mbak Siti Sukaiah jam 8.45, salah satu founder Pemburu Beasiswa. Nah, selanjutnya masuk ke seminarnya, momodnya ialah mbak Azizatul Ulfa, Sekjend GC UGM, dengan pembicara teh Nadia Karina Hakman, mbak Nur Febriani Wardi, dan bapak Dinar (dosen Teknik Sipil UGM).

Pemaparan pertama dari teh Karin, lulusan University of Aukland. Coba kubikin per poin aja =) Ini dia poin-poin dari pemaparan teh Karin:

1.      Bagaimana sih beasiswa yang penuh berkah?
a.       Tanpa penipuan
b.      Bukan asas kapitalisme
c.       Allaah ridho

2.      Kenapa sekolah di luar negeri?
a.       Kualitas lebih bagus. Penguasaan bahasa asing meningkat, penelitian lebih terpublish, seserang keluar dunia baru bisa jadi dosen, dan gak ada absen.
b.      Sukses (finansial).
c.       Bisa jalan-jalan :D *modus utama yang gak boleh diucapkan blak-blakan pas interview*
d.      Bikin ortu bangga
e.       Aktualisasi diri
f.       Bosen jadi juara di kandang sendiri. Hmm
g.      Indonesia membutuhkanmu. *so sweet banget*
h.      Sebagai wujud syukur pada Tuhan.
i.        Berbakti pada Yang Maha Pencipta.

Di sela-sela penjelasan ini ada kalimat “Think global act local” dan permasalahan pemuda, yakni: 6F(Food junky, Fashion folloer, Fun oriented, Film minded, Finance dependency, Faith). Serta “Kita seperti buih”. Ketika teh Karin interview beasiswa, ada pertanyaan yang beliau jawab gini: ketika saya bisa berbuat lebih banyak, kenapa berbuat sedikit? Ketika saya bisa berbuat lebih baik, kenapa berbuat biasa, dan ketika saya bisa berkontribusi lebih, kenapa saya berkontribusi biasa saja. “What you aim drives you to what you earn”.

3.      Beliau memaparkan bagaimana memenangkan beasiswa juga. Sebenernya clue-clue-nya ya yang seperti biasa, tapi teh Karin mengemasnya dengan sangat renyah, jadi kami pun antusias.
a.       Niat. What are you dreaming to be? What steps are you currently at? FOCUS: It will lift you up! Itu yang tertulis di slidenya, hha. oya, temple impian-impian juga =)
b.      Usaha. How strong your passion comes to action? Pemimpi atau pengkhayal. WorkHARD(no malas, ada proses) & workSMART(prepare well, be organized!). teh Karin me-list 100 pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan pas interview. Di sini ada tulisan administrasi, FGD, dll.
c.       Tawakal & Doa. Impianmu melambung tinggi, each second worthes… J move!

4.      …Memurnikan niat…Menguatkan langkah… Melapangkan hati menuju sukses hakiki…

*cmiiw
~To be continued~ 
Readmore >>

Nasihat Berharga bagi Penuntut Ilmu

Sabtu, 7 September 2013
Di Kariadi
Oleh ustadz Sholihin

Bismillaah

Kali ini saya ingin mengetikkan catatan ta’lim saya. Karena saat ta’lim itu ada nasihat untuk tidak menyembunyikan ilmu :’) Ya Allaah, jadi ngaca, udah berapa ilmu yang saya sembunyikan. Kemaren itu ta’lim di sana dan alhamdulillaah ketemu akhwat Unnes yang cukup banyak =)
Selain khutbatul hajah, ta’lim itu dibuka dengan ucapan ‘Sedikit sekali umat-Ku yang bersyukur’ dan kesyukuran itu bisa dalam bentuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Mungkin seperti biasa dibuat poin-poin aja kali ya, hhe.
Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
# Hendaklah penuntut ilmu berhias dengan akhlak mereka.
# Imam Syafi’i => seseorang tidak akan merasakan kelezatan ilmu sampai merasakan kefakiran, kemiskinan, dan kelaparan.

.:(# Perkara yang perlu Diperhatikan #):.
1.      Mengetahui kedudukan/ keutamaan guru dan cara berakhlak pada guru.
# Guru memiliki kedudukan yang tinggi.
>> Hadits dari Imam Abu Dawud yang dihasankan oleh Syeikh Muqbil, Rasulullaah berkata:”Sesungguhnya saya bagi kalian sekedudukan dengan bapak pada anaknya yang mengajarkanpa pada kalian ilmu.”
>> Kedudukan guru lebih tinggi daripada orang tua karena terkadang orang tua hanya memikirkan perkara dunia, sedangkan pengajar mengingatkan perkara dunia dan akhirat.
>> Wajib bagi seorang murid untuk mempunyai adab terhadap guru.
>> Dari Syeikh Sa’di(dari kitab beliau): wajib bagi murid untuk tunduk, merendahkan diri dihadapan guru dengan puncak adab. Karena seorang pengajar mempunyai hak yang umum dan khusus.
>> Pengajar:
1.      Mengajarkan kebaikan.
2.      Mempersiapkan diri matang-matang demi kebaikan muridnya.
3.      Seperti orang yang berbuat baik pada kita. Tidak ada kebaikan yang paling tinggi, yang paling bermanfaat, kecuali orang yang mengingatkan pada perkara agama. Dan guru memperingatkan ketika kita lalai
4.      Mengajarkan ilmu dan memperhatikan yang terbaik untuk murid.
5.      Dengannya terhasilkan kebaikan, terhindarkkan kejelekan, dan tersebarkan agama.
6.      Jasa seorang ulama => kalo bukan karena ilmu, manusia seperti binatang ternak, seperti dalam kegelapan, dan tidak mempunyai aturan.
>> Ilmu itu cahaya yang bisa dijadikan petunjuk dalam kegelapan…, hati, dan ruh. Agar ruh hidup yakni dengan memiliki keimanan. Dunia => banyak kegelapan.
>> Manusia yang mempunyai kecerdasan tapi tidak beradab terhadap guru maka ilmunya tidak barokah.
>> Syeikh Sa’di: guru telah mencurahkan tenaga, waktu, dan semangatnya. Ia berusaha agar muridnya memiliki derajat yang tinggi. Tidaklah jasa orang tua (dalam pendidikan agama) seperti jasa ulama. Apalagi orang tua yang menelantarkan pendidikan kepada anak. Ulama memberikan ilmu dari yang terkecil hingga terbesar. Ulama mencurahkan waktu emas dan kejernihan pikirannya untuk membimbing muridnya. Guru memiliki kebaikan lebih dibandingkan orang lain. Orang lain memberikan harta/ benda yang manfaatnya hanya sementara, sedangkan guru memberi bimbingan yang manfaatnya tidak terputus, akan ada manfaatnya dengan ilmu yang senantiasa dimanfaatkan.
            .:(# Poin yang perlu Diperhatikan #):.
1.      Duduk bermajelis di hadapan guru dengan keadaan beradab, menampakkan kesungguhan kalo kita butuh ilmu kepadanya, dan senantiasa mendoakan (ketika guru itu ada dihadapan kita atau tidak).
2.      Ketika guru memberikan faidah/ penjelasan-penjelasan dari suatu masalah, jangan sampai menampakkan kalo murid sudah tau, meski sebenarnya murid sudah tau. Jangan memalingkan wajah. Tampakkan perhatian yang serius, karena ketika sang guru tau muridnya memperhatikan dengan saksama maka guru akan membahas lebih dalam. Namun, jika ketauan murid sudah tau, maka sang guru tidak jadi memberi faidah yang banyak pada murid, karena merasa murid sudah tau.
3.      Memuliakan/ menghormati guru sesuai adab syar’i dan lemah lembut.
>> Syeikh Utsaimin => tiga perkara tadi shohih. Akhlak tersebut mulia. Apakah kita sudah mengerjakan amalan tersebut? Demi Allaah saya gak tau, saya sudah beradab pada guru saya atau belum.
4.      Duduklah dengan gaya duduk yang beradab. Engkau tidak memanjangkan kaki di hadapan guru kecuali capek, sebentar saja gpp. Suasananya sunyi, senyap, dan tenang. Saya (Imam Syafi’i) membuka lembaran kertas dengan tenang, sampai-sampai kalo ada burung yang di atas mereka, burung itu tidak terbang. Tenangnya mereka karena fokus dan khusyuk, bukan karena tidur/ mengantuk.
>> Syeikh Utsaimin => jangan engkau berbincang dengan guru seperti berbincang dengan teman, karena ilmu jadi kurang barokah. Seorang murid yang berbicara pada guru seperti biacaranya anak pada bapak, tawadhu’.
5.      Seorang murid tidak boleh mendahului guru dalam ucapan. Tidak beradab ketika di tengah-tengah menyela tanpa izin. Akibatnya ialah dicabutnya barokah.

2.      Qona’ah (merasa cukup dengan dunia)
>> Syeikh Sa’di: ketahuilah, bahwa qona’ah pada pemberian Allaah dan hidup sederhana ialah perkara yang dituntut dari seorang penuntut ilmu. Ilmu adalah perkara yang dicari seumur hidup. Setiap kali seorang hamba tersibukkan dengan perkara duniawiyyah maka semakin kurang dari menuntut ilmu, dan begitu sebaliknya. Sifat asl dunia ialah melalaikan, dan sifat asl ilmu ialah mendekatkan pada Allaah ta’ala, keduanya merupakan sebab yang terbesar untuk membatasi dunia dan mencukupkan pada ilmu.
>> Imam Nawawi(dalam Majmu’ jilid 1 halaman 50): di antara perkara yang musti dimiliki ialah zuhud dengan dunia/ pemberian Allaah yang sedikit.
>> Yahya Ibn Abi Katsir. Yahya At Taimi telah mengkabarkan dari Abdullaah(anak dari Yahya ibn Abi Katsir): Tidak akan diperoleh ilmu dengan tubuh yang santai, merasa enak, dan nyaman. Seorang penuntut ilmu sejati ialah mereka yang mencurahkan waktu untuk menuntutu ilmu dalam keadaan kekurangan dan capek. Kenapa? Beliau (Yahya ibn Abi Katsir) memiliki jadwal kajian, saking padatnya, ketika beliau memancing ikan dan mendapat ikan yang besar, ikan itu ditinggal (tanpa sadar), dan sudah 4 hari lamanya beliau baru ingat, ikan itu sudah membusuk. Dan beliau memakan ikan itu, meski ikan itu sudah basi L subhanallaah.
>> Imam Abdil Bar(dalam Jami’ jilid 1 halaman 384): sesungguhnya warisan ilmu itu lebih baik dari warisan emas dan perak. Dalam hadits nabi disebutkan, nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut maka ia mengambil bagian yang banyak. Ilmu (dalam Jami’) : simpanan yang paling berharga dan lebih baik dari batu permata/ perhiasan berharga. Ilmu tidak diraih oleh orang yang badannya santai. Ilmu orang” sekarang : ilmu orang” dulu => jauh, bak bumi dan langit. Hafalan terkuat orang sekarang mungkin < hafalan terrendah orang terdahulu. (Atsar dhaif, ada Baqiyah…, Hisyam bin Ubaidillah, namun terangkat karena ada atsar sebelumnya).
>> Imam Malik: Sesungguhnya ilmu itu tidak akan didapat, kecuali seorang sudah merasakan rasanya kefakiran dan kesulitan. Apa yang terjadi dengan Imam Robiah? Dia kecil, tumbuh, dan ditinggal jihad ayahnya 30 tahun, ketika pulang bapaknya gak kenal anaknya. Imam Robiah telah menjadi guru Imam Malik. Imam Robiah menjual kayu penyangga atap rumahnya demi mencari ilmu, agar bisa terus mencari ilmu. Sampai-sampai Imam Robiah kekurangan makanan, hingga pernah beliah makan makanan dari tempat sampah, dari anggur kering dan ampas-ampas kurma :’( Imam Robiah hidupnya susah hingga ia meninggal dan kelezatan ilmu fiqh hilang sejak meninggalnya Imam Robiah. *Bandingkan dengan menuntut ilmu kita, fasilitas banyak, tapi kita masih malas* Kondisi beliau faqir, namun yang duduk di adapan beliau (untuk menuntut ilmu) banyak.
>> Imam Syu’bah: Siapa yang mencari ilmu (salah 1 ilmu utama = ilmu hadits) maka bangkrut dunianya. Bangkrut harta, sukses agama. Hendaklah orang yang mendatangi majelis ilmu, menyampaikan pada yang tidak hadir, bantu- membantu dalam menyampaikan faidah.
>> Imam Syafi’I: Ilmu tidak bisa dicari dengan harta, harta bukan jaminan. Mulianya jiwa tidak bisa diraih dengan harta. Orang yang berhasl mencari ilmu dengan penuh kerendahan (kekurangan makan, dll). Keberhasilannya ketika memuliakan ilmu meski hidupnya susah. Namun yang lebih parah ialah kondisinya susah namun gak menuntut ilmu.
>> Abu Hurairah. Dari Imam Bukhori dan Imam Muslim, manusia mengatakan: abu Hurairah punya riwayat banyak, beliau berkata, “Seandainya bukan karena 2 riwayat qur’an, saya gak menceritakan…” (1) Ancaman bagi orang yang menyembunyikan qur’an/ ilmu (2) ancaman bagi orang yang menyembunyikan apa yang kami turunkan. Saudara-saudara kami Muhajirin sibuk dengan perdanganan dan Anshor sibuk dengan berladang, sedangkan abu hurairah memilih bermulazamah, duduk bersama Rasulullaah, meski perutnya lapar, hingga dia unggul dalam periwayatan hadits. Beliau pernah mau pingsan karena rasa lapar yang melilit perutnya dan pernah juga menganjal perutnya dengan batu. Nah, seberapa besar semangat kita?? Hidayat dari Allaah tidak diraih kecuali dengan bimbingan. Jika kita bersungguh-sungguh pasti kita mendapat petunjuk.
>> Imam Abdil Bar(dalam hadits tadi terdapat ilmu fiqh):
1.      Menuntut ilmu harus duduk dihadapan ulama (mulazamah). Kalo sendiri maka tersesat. Perlu rihlah untuk mencari ilmu.
2.      Ridho/ merasa cukup dengan kehidupan yang sedikit, yang penting bisa menuntut ilmu. Kehidupan yang sedikit sekedar bisa menegakkan tulang punggung.
3.      Mendahulukan ilmu daripada kesibukkan dunia. Kehidupan mereka seadanya, susah di bayangkan dengan akal. Ilmu mereka luar biasa. Penuntut ilmu => bersabarlah atas hidup yang susah dan merasa cukup.
>> Imam Ibnu Mubarok: di akhir buat dari ilmu =>  lezat. Sabar, awalnya berat, namun akibanya lebih manis dari madu.






Readmore >>