Showing posts with label kajian. Show all posts
Showing posts with label kajian. Show all posts

Adab- Adab Penuntut Ilmu

Bismillaah

Adab- Adab Penuntut Ilmu

Disampaikan oleh ustadz Sholihin, Rabu, 9 Oktober 2013 di Albarokah, Semarang.

Tanda-tanda ilmu yang bermanfaat:
1.       Seseorang beramal dengan ilmunya.
o   Ilmu tanpa amalan => pohon yang tidak berbuah. Untuk apa pohon disirami tapi tidak menghasilkan buah(?)
o   Dari Rasulullaah => Alqur’an bisa menjadi hujjah baginya (ketika seorang itu mengamalkan) atau sebaliknya (tidak diamalkan) maka Allaah mencelanya.
o   Salah satu dari tiga orang yang pertama kali diadzab ialah orang yang mencari ilmu supaya dikatakan orang berilmu (alim).
o   Orang yang punya ilmu tanpa diamalkan => amat besar murka Allaah. Kalian mengatakan perkara tapi kalian tidak melakukannya.
o   Tidak punya ilmu => musibah <= punya ilmu, tidak diamalkan.
2.       Seorang penuntut ilmu, dia benci mensucikan dirinya, memuji diri sendiri, dan sombong.
o   Ilmunya tinggi => merasa lebih dari yang lain atau paling tinggi dari yang lain => ilmunya tidak bermanfaat.
o   Menge-judge => selain dia jika menyelisiih dia => salah (X)
3.       Semakin bertambahnya tawadhu’nya hamba. Tidak menjadikan dia berbanggga, tapi dia merendah.
4.       Dia lari meninggalkan dari cinta kedudukan/ ketenaran/ cinta dunia.
o   Penuntut ilmu yang sudah lamapun sering terjangkiti hal ini
o   Kedudukan itu tidak hanya pangkat, jabatan, tapi bisa jadi disebut-sebut namanya/ disebut sebagai murid terbaik/ syuhroh.
o   Tau kadar diri => tawadhu’
o   Ibnul Qoyyim => penting untuk tau kadar diri (siapa kita, seberapa besar ilmu kita).
o   Belum pasti yang banyak pengikut itu di atas al haq.
5.       Meninggalkan ucapan (agar disebut) “orang berilmu”, dia tawadhu’, mengatakan bodoh atau jauh dari ilmu.
o   Harus ikhlas. “saya gak tau apa-apa” => biar dikatakan rendah hati. è Perangkap setan itu lembut.
6.       Seorang senang berprasangka buruk pada dirinya.
o   Bukan su’udzon pada yang lain.
o   Tuduhlah diri kita.
o   Berprasangka baik pada manusia.
o   Senang su’udzon pada manusia, dirinya diberi sangkaan yang baik (X)

~to be continued~
7.        
8.        
9.        
Readmore >>

Nasihat Berharga bagi Penuntut Ilmu

Sabtu, 7 September 2013
Di Kariadi
Oleh ustadz Sholihin

Bismillaah

Kali ini saya ingin mengetikkan catatan ta’lim saya. Karena saat ta’lim itu ada nasihat untuk tidak menyembunyikan ilmu :’) Ya Allaah, jadi ngaca, udah berapa ilmu yang saya sembunyikan. Kemaren itu ta’lim di sana dan alhamdulillaah ketemu akhwat Unnes yang cukup banyak =)
Selain khutbatul hajah, ta’lim itu dibuka dengan ucapan ‘Sedikit sekali umat-Ku yang bersyukur’ dan kesyukuran itu bisa dalam bentuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Mungkin seperti biasa dibuat poin-poin aja kali ya, hhe.
Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
# Hendaklah penuntut ilmu berhias dengan akhlak mereka.
# Imam Syafi’i => seseorang tidak akan merasakan kelezatan ilmu sampai merasakan kefakiran, kemiskinan, dan kelaparan.

.:(# Perkara yang perlu Diperhatikan #):.
1.      Mengetahui kedudukan/ keutamaan guru dan cara berakhlak pada guru.
# Guru memiliki kedudukan yang tinggi.
>> Hadits dari Imam Abu Dawud yang dihasankan oleh Syeikh Muqbil, Rasulullaah berkata:”Sesungguhnya saya bagi kalian sekedudukan dengan bapak pada anaknya yang mengajarkanpa pada kalian ilmu.”
>> Kedudukan guru lebih tinggi daripada orang tua karena terkadang orang tua hanya memikirkan perkara dunia, sedangkan pengajar mengingatkan perkara dunia dan akhirat.
>> Wajib bagi seorang murid untuk mempunyai adab terhadap guru.
>> Dari Syeikh Sa’di(dari kitab beliau): wajib bagi murid untuk tunduk, merendahkan diri dihadapan guru dengan puncak adab. Karena seorang pengajar mempunyai hak yang umum dan khusus.
>> Pengajar:
1.      Mengajarkan kebaikan.
2.      Mempersiapkan diri matang-matang demi kebaikan muridnya.
3.      Seperti orang yang berbuat baik pada kita. Tidak ada kebaikan yang paling tinggi, yang paling bermanfaat, kecuali orang yang mengingatkan pada perkara agama. Dan guru memperingatkan ketika kita lalai
4.      Mengajarkan ilmu dan memperhatikan yang terbaik untuk murid.
5.      Dengannya terhasilkan kebaikan, terhindarkkan kejelekan, dan tersebarkan agama.
6.      Jasa seorang ulama => kalo bukan karena ilmu, manusia seperti binatang ternak, seperti dalam kegelapan, dan tidak mempunyai aturan.
>> Ilmu itu cahaya yang bisa dijadikan petunjuk dalam kegelapan…, hati, dan ruh. Agar ruh hidup yakni dengan memiliki keimanan. Dunia => banyak kegelapan.
>> Manusia yang mempunyai kecerdasan tapi tidak beradab terhadap guru maka ilmunya tidak barokah.
>> Syeikh Sa’di: guru telah mencurahkan tenaga, waktu, dan semangatnya. Ia berusaha agar muridnya memiliki derajat yang tinggi. Tidaklah jasa orang tua (dalam pendidikan agama) seperti jasa ulama. Apalagi orang tua yang menelantarkan pendidikan kepada anak. Ulama memberikan ilmu dari yang terkecil hingga terbesar. Ulama mencurahkan waktu emas dan kejernihan pikirannya untuk membimbing muridnya. Guru memiliki kebaikan lebih dibandingkan orang lain. Orang lain memberikan harta/ benda yang manfaatnya hanya sementara, sedangkan guru memberi bimbingan yang manfaatnya tidak terputus, akan ada manfaatnya dengan ilmu yang senantiasa dimanfaatkan.
            .:(# Poin yang perlu Diperhatikan #):.
1.      Duduk bermajelis di hadapan guru dengan keadaan beradab, menampakkan kesungguhan kalo kita butuh ilmu kepadanya, dan senantiasa mendoakan (ketika guru itu ada dihadapan kita atau tidak).
2.      Ketika guru memberikan faidah/ penjelasan-penjelasan dari suatu masalah, jangan sampai menampakkan kalo murid sudah tau, meski sebenarnya murid sudah tau. Jangan memalingkan wajah. Tampakkan perhatian yang serius, karena ketika sang guru tau muridnya memperhatikan dengan saksama maka guru akan membahas lebih dalam. Namun, jika ketauan murid sudah tau, maka sang guru tidak jadi memberi faidah yang banyak pada murid, karena merasa murid sudah tau.
3.      Memuliakan/ menghormati guru sesuai adab syar’i dan lemah lembut.
>> Syeikh Utsaimin => tiga perkara tadi shohih. Akhlak tersebut mulia. Apakah kita sudah mengerjakan amalan tersebut? Demi Allaah saya gak tau, saya sudah beradab pada guru saya atau belum.
4.      Duduklah dengan gaya duduk yang beradab. Engkau tidak memanjangkan kaki di hadapan guru kecuali capek, sebentar saja gpp. Suasananya sunyi, senyap, dan tenang. Saya (Imam Syafi’i) membuka lembaran kertas dengan tenang, sampai-sampai kalo ada burung yang di atas mereka, burung itu tidak terbang. Tenangnya mereka karena fokus dan khusyuk, bukan karena tidur/ mengantuk.
>> Syeikh Utsaimin => jangan engkau berbincang dengan guru seperti berbincang dengan teman, karena ilmu jadi kurang barokah. Seorang murid yang berbicara pada guru seperti biacaranya anak pada bapak, tawadhu’.
5.      Seorang murid tidak boleh mendahului guru dalam ucapan. Tidak beradab ketika di tengah-tengah menyela tanpa izin. Akibatnya ialah dicabutnya barokah.

2.      Qona’ah (merasa cukup dengan dunia)
>> Syeikh Sa’di: ketahuilah, bahwa qona’ah pada pemberian Allaah dan hidup sederhana ialah perkara yang dituntut dari seorang penuntut ilmu. Ilmu adalah perkara yang dicari seumur hidup. Setiap kali seorang hamba tersibukkan dengan perkara duniawiyyah maka semakin kurang dari menuntut ilmu, dan begitu sebaliknya. Sifat asl dunia ialah melalaikan, dan sifat asl ilmu ialah mendekatkan pada Allaah ta’ala, keduanya merupakan sebab yang terbesar untuk membatasi dunia dan mencukupkan pada ilmu.
>> Imam Nawawi(dalam Majmu’ jilid 1 halaman 50): di antara perkara yang musti dimiliki ialah zuhud dengan dunia/ pemberian Allaah yang sedikit.
>> Yahya Ibn Abi Katsir. Yahya At Taimi telah mengkabarkan dari Abdullaah(anak dari Yahya ibn Abi Katsir): Tidak akan diperoleh ilmu dengan tubuh yang santai, merasa enak, dan nyaman. Seorang penuntut ilmu sejati ialah mereka yang mencurahkan waktu untuk menuntutu ilmu dalam keadaan kekurangan dan capek. Kenapa? Beliau (Yahya ibn Abi Katsir) memiliki jadwal kajian, saking padatnya, ketika beliau memancing ikan dan mendapat ikan yang besar, ikan itu ditinggal (tanpa sadar), dan sudah 4 hari lamanya beliau baru ingat, ikan itu sudah membusuk. Dan beliau memakan ikan itu, meski ikan itu sudah basi L subhanallaah.
>> Imam Abdil Bar(dalam Jami’ jilid 1 halaman 384): sesungguhnya warisan ilmu itu lebih baik dari warisan emas dan perak. Dalam hadits nabi disebutkan, nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut maka ia mengambil bagian yang banyak. Ilmu (dalam Jami’) : simpanan yang paling berharga dan lebih baik dari batu permata/ perhiasan berharga. Ilmu tidak diraih oleh orang yang badannya santai. Ilmu orang” sekarang : ilmu orang” dulu => jauh, bak bumi dan langit. Hafalan terkuat orang sekarang mungkin < hafalan terrendah orang terdahulu. (Atsar dhaif, ada Baqiyah…, Hisyam bin Ubaidillah, namun terangkat karena ada atsar sebelumnya).
>> Imam Malik: Sesungguhnya ilmu itu tidak akan didapat, kecuali seorang sudah merasakan rasanya kefakiran dan kesulitan. Apa yang terjadi dengan Imam Robiah? Dia kecil, tumbuh, dan ditinggal jihad ayahnya 30 tahun, ketika pulang bapaknya gak kenal anaknya. Imam Robiah telah menjadi guru Imam Malik. Imam Robiah menjual kayu penyangga atap rumahnya demi mencari ilmu, agar bisa terus mencari ilmu. Sampai-sampai Imam Robiah kekurangan makanan, hingga pernah beliah makan makanan dari tempat sampah, dari anggur kering dan ampas-ampas kurma :’( Imam Robiah hidupnya susah hingga ia meninggal dan kelezatan ilmu fiqh hilang sejak meninggalnya Imam Robiah. *Bandingkan dengan menuntut ilmu kita, fasilitas banyak, tapi kita masih malas* Kondisi beliau faqir, namun yang duduk di adapan beliau (untuk menuntut ilmu) banyak.
>> Imam Syu’bah: Siapa yang mencari ilmu (salah 1 ilmu utama = ilmu hadits) maka bangkrut dunianya. Bangkrut harta, sukses agama. Hendaklah orang yang mendatangi majelis ilmu, menyampaikan pada yang tidak hadir, bantu- membantu dalam menyampaikan faidah.
>> Imam Syafi’I: Ilmu tidak bisa dicari dengan harta, harta bukan jaminan. Mulianya jiwa tidak bisa diraih dengan harta. Orang yang berhasl mencari ilmu dengan penuh kerendahan (kekurangan makan, dll). Keberhasilannya ketika memuliakan ilmu meski hidupnya susah. Namun yang lebih parah ialah kondisinya susah namun gak menuntut ilmu.
>> Abu Hurairah. Dari Imam Bukhori dan Imam Muslim, manusia mengatakan: abu Hurairah punya riwayat banyak, beliau berkata, “Seandainya bukan karena 2 riwayat qur’an, saya gak menceritakan…” (1) Ancaman bagi orang yang menyembunyikan qur’an/ ilmu (2) ancaman bagi orang yang menyembunyikan apa yang kami turunkan. Saudara-saudara kami Muhajirin sibuk dengan perdanganan dan Anshor sibuk dengan berladang, sedangkan abu hurairah memilih bermulazamah, duduk bersama Rasulullaah, meski perutnya lapar, hingga dia unggul dalam periwayatan hadits. Beliau pernah mau pingsan karena rasa lapar yang melilit perutnya dan pernah juga menganjal perutnya dengan batu. Nah, seberapa besar semangat kita?? Hidayat dari Allaah tidak diraih kecuali dengan bimbingan. Jika kita bersungguh-sungguh pasti kita mendapat petunjuk.
>> Imam Abdil Bar(dalam hadits tadi terdapat ilmu fiqh):
1.      Menuntut ilmu harus duduk dihadapan ulama (mulazamah). Kalo sendiri maka tersesat. Perlu rihlah untuk mencari ilmu.
2.      Ridho/ merasa cukup dengan kehidupan yang sedikit, yang penting bisa menuntut ilmu. Kehidupan yang sedikit sekedar bisa menegakkan tulang punggung.
3.      Mendahulukan ilmu daripada kesibukkan dunia. Kehidupan mereka seadanya, susah di bayangkan dengan akal. Ilmu mereka luar biasa. Penuntut ilmu => bersabarlah atas hidup yang susah dan merasa cukup.
>> Imam Ibnu Mubarok: di akhir buat dari ilmu =>  lezat. Sabar, awalnya berat, namun akibanya lebih manis dari madu.






Readmore >>

#‎Review‬ Singkat Materi Kemaren


#‎Review‬ Singkat Materi Kemaren

^ Bekal Perjalanan Menuju Akhirat ^

<> Ilmu, 3 bagian:
1. Ilmu tentang mengenal keesaan Allaah, mengenal sifat-sifat, dan naman-nama-Nya
2. Ilmu tentang tuntunan agama-Nya (perintah dan larangan)
3. Ilmu tentang hari pembalasan

<> Visi Dakwah Rasulullaah
1. Mengenal Allah, keagungan-Nya, nama, dan sifat-sifat-Nya
2. Mengingatkan pada akhirat
>>> Agar mudah ingat akhirat <<<
a. Menyadari bahwa kehidupan dunia ini gak ada nilainya.
Dunia lebih hina daripada bangkai anak kambing cacat.
b. Ingat mati
Setiap umat ada ajalnya, dak bisa dimajukan, gak bisa diakhirkan.
c. Banyak bersiap untuk akhirat
manusia cerdas => orang yang paling banyak prep untuk kehidupan setelah mati.
3. Menerangkan jalan yang mengantarkan ke Surga, yakni ilmu dan amal.

*Uraian singakt sekali, lebih manteb kalo dateng, hhe*
Readmore >>

#‎Review‬ Kajian Pra-Ramadhan @Maskam

#‎Review‬ Kajian Pra-Ramadhan @Maskam

Semoga kita bukan hanya orang yang menahan lapar dan dahaga saja, namun semoga kita mendapat ampunan Allaah (karena sangat merugi orang yang tlah lepas dari Romadhon namun tak mendapat ampunan Allaah) dan semoga kita mendapat keberkahan serta kebaikan.

Sebagian orang tidak mendapat apa-apa, bahkan mendapat dosa. Ketika Romadhon kebaikan dilipatgandakan, begitu pula berbuat keburukan dosanya pun akan dilipatgandakan.

Sebagian orang menganggap ketika lepas Romadhon maka ia akan suci, padahal yang diampuni hanya dosa-dosa kecil saja.

Ketika Romadhonnya diterima, maka tandanya ialah ia semangat melakukan ibadah lain. (hanya tanda saja, bukan kepastian)

Romadhon => momen indah untuk taubat. Orang yang menunda taubat dosanya ialah dosa sebelumnya dan dosa menunda taubat.
 
Readmore >>

BEKAL-BEKAL UNTUK MENUNTUT ILMU [2-end]

ð  Kajian Selasa, 13 November 2012 di Majelis Al Barokah, Semarang (Yang sebelumnya hari Senin, 12 November 2012)
1.       Bagusnya hati
·         Menata dan memperbaiki hati.
·         Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh, bagus hatinya => maka benar-benar akan Kami beri petunjuk/ jalan Kami(jalan yang menghantarkan pada Surga).
·         Hati kita itu untuk menampung ilmu. Maka seandainya tempat itu sholeh maka hati tersebut akan bisa menyimpan dengan baik dan mudah menghafal. Namun jika tempat tersebut fasiq/ dipenuhi dosa/ maksiat maka tempat tersebut akan menyia-nyiakan isinya. Ibnul Qoyyim => hati manusia apabila sering maksiat maka kebaikan susah masuk. Ilmu tidak bisa memasukinya. Seperti kalo botol diisi air, jika tempat itu rusak maka tempat tersebut menyia-nyiakan apa yang ada di dalamnya.
·         Hati kita sebagai pondasi/ pemimpin/ pokok dari segala sesuatu/ pemimpin. Ingatlah jasad manusia terdapat mutghoh, apabila segumpal darah itu bagus maka akan bagus pula seluruh anggotanya. Akan tetapi sebaliknya, segumpal darah itu dipenuhi dosa, akan rusak anggota tubuhnya. => perbaiki hati dengan ilmu, mengenal nama-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, memikirkan-Nya, merenungkan ciptaan-Nya, Allah menjaga langit dan bumi.
·         Ayat kauniyah è ciptaan Allah, siang malam è tanda kebesaran-Nya.
·         Ayat syar’iyah è terkandung di Al qur’an.
·         Untuk memperbaiki diri yakni dengan sholat wajib dan sholat sunnah (sholat malam, dll).
·         Seseorang menjauhi perkara yang merusak hati.
·         Penyakit hati bila bersarang di hati, maka sesungguhnya hati tersebut tidak bisa menampung ilmu. Jikapun bisa menampung ilmu maka tidak bisa faham dengan baik.
·         Atau malah menggunakan ilmu untuk melanggar syariat Allah. Munafik, sakit hati, mereka punya hati tapi hatinya tidak bisa memahami ilmu.
·         Penyakit hati ada 2 yakni syahwat dan syubhat.
·         Syahwat yakni dorongan hawa nafsu, cinta dunia dan kelezatan dunia, serta tersibukkan perkara dunia. Syahwat è menyenangi gambar-gambar yang dilarang, senang mendengar suara-suara/ nyanyian syaithon, musik (haram <== terompet setan), sutra, lalai dari al qur’an dan mengkaji ilmu Allah, suka melihat perkara haram.
·         Seharunya penuntut ilmu menyiapkan tempat yang baik, siapkan dengan bersih.
·         Imam syafi’i mengadukan jeleknya hafalannya kepada Waqi’. Ilmu itu cahaya, jangan kau padamkan dengan maksiat! Ilmu agama tidak sama dengan ilmu dunia yakni untuk mendapatkannya memerlukan adab.
·         Syubhat yakni kerancuan berpikir/ pemikiran menyimpang, keyakinan rusak. Waspada dari syubhat dan syahwat karena keduanya ialah senjata setan. Amalah yang diada-adakan itu dosa.
·         Hukum asal ibadah ialah terlarang, kecuali ada yang menghalalkan. Hukum asal dunia ialah boleh, kecuali ada dalil yang melarang.
·         Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah maka tertolak. Perkara syubhat è menyandarkan pemikiran bid’ah.
·         Safasush sholih ialah sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in.
·         Hasad ialah tidak suka bila saudaranya mendapat kenikmatan dan dia berusaha menghilangkan nikmat itu.
·         Dengam dan sombong tidak boleh. Sombog itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
·         Ambillah kebenaran.
·         Banyak tidur è berusaha diatur. Jangan banyak tidur!
·         Banyak bicara yang tidak ada faidahnya è tidak boleh. Bicara seputar ilmu, bukan ghibah, atau namimah.
·         Menggelincirkan ke neraka itu lisan dan kemaluan.
·         Banyak makan è ilmu tidak akan teraih dengan badan yang santai dan kenyang.
·         Banyak makan è banyak minum è banyak tidur è tidak belajar.
·         Bentuk perbaikan hati yakni dengan menjauhi penyakit itu.

2.       Kecerdasan
·         Kecerdasan ada 2 yakni kecerdasan yang ditakdirkan atau tabiat dan kecerdasan yang diusahakan/ diasah dengan berlatih. Untuk yang pertama dengan kuatnya ilmu dan yang kedua yakni dengan kecerdasan yang biasa-biasa saja namun membiasakan jiwa/ nafsu sampai terbiasa sehingga bisa cerdas.
·         Kecerdasan digunakan untuk bisa membedakan masalah dan mengumpulkan dalil.

3.        Semangat, jangan lemah, jangan putus asa.
·         Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat untukmu! Mohonlah pertolongan dan jangan merasa lemah! Susah itu sudah biasa.
·         Sesungguhnya Allah bersama orang bertaqwa dan berbuat baik.
·         Dengan mengetahui urgensi perkara maka semangat untuk meraihnya.
·         Tau ilmu agama  <== selamat ke Surga Allah.
·         Ilmu adalah perkara yang paling agung. 1 ilmu dengan sunia seisinya itu tidak sebanding.
·         Orang terdahulu rela berjalan, naik onta ataupun kuda berbulan-bulan atau menjual atap rumah untuk memperoleh 1 hadits, karena manisnya ilmu.
·         Maka wajib bagi penuntut ilmu untuk menghafal yakni dihafalkan dan dipahami.
·         Semangat duduk bersama orang berlimu dan mengambil ilmu mereka.
·         Semangat banyak membaca kita ulama, karena jutaan judulnya. Untuk bisa membaca kita ulama maka belajar bahasa Arab.
·         Dan hendaklah penuntut ilmu menyibukkan umurnya dan waktunya untuk ilmu bukan perkara sia-sia.
·         Penuntut ilmu hendaknya memiliki sifat bakhil terhadap waktu yakni jangan membiarkan waktu berlalu begitu saja.

4.       Seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki tekad, kesungguhan, dan juga sabar yang terus menerus.
·         Dan hendaklah menjauhi malas dan lemas. Dan bersungguh-sungguh mengekang jiwanya melawan syaithon. Karna sifat dasar manusia ialah mengajak ke kejelekan.
·         Maka jiwa manusia dan syaithon menjadikan berat menuntut ilmu.
·         Sebab-sebab yang bisa menjadikan semangat è membaca biografi ulama, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in yang sarat dengan cahaya, membaca tentang kesabaran mereka, gigih memikul beban kehidupan, rihlah dalam mencari ilmu, penuh perjuangan.

5.       Menyiapkan bekal.
·         Menyiapkan fisik (kesehatan) dan materi (biaya).
·         Mencurahkan puncak kemampuan sampai dia mencapai apa yang dia inginkan. Menghafal, memahami, membentuk qoidah.

6.       Bukan dengan otodidak tapi mengikuti guru.
·         Ilmu itu diambil dari lisan-lisan ulama, duduk dihadapan ulama, mengucapkan lafadz hadits,...
·         Tidak ada kekeliruan dan tidak ada kesalahan dalam memberi harokat.
·         Tidak hanya ilmu, tapi juga mengambil adabnya dan akhlaknya, sifat kehati-hatian dalam menghadapi kehidupan.
·         Belajar dengan kita bisa salah paham, banyak salah, sedikit benar.
·         Dan tidaklah seorang laki-laki dengan ilmu kecuali dengan ulama è terbimbing dan terdidik.

7.       Belajar dalam waktu yang lama dan sabar
·         Imam ahmad è belajar sampa mati.
·         Sahabat belajar >= 15 tahun.
·         Maka seorang penuntut ilmu jangan menyangka menuntut ilmunya sempurna daam waktu sehari-dua hari, setahun-dua tahun. Butuh kesabaran bertahun-tahun. Rutinkan! Amalkan! Penuh kebaikan.
·         Qodhi ‘Iyadh è sampai kapan seseorang menuntut ilmu? <== sampai mati. Tinta itu dikuburkannay (perumpamaan).
·         Imam Ahmad è saya duduk membahas tentang haid 9 tahun (1 bab).
·         10 tahun atau 20 tahun è sebagian ualama senantiasa dia duduk dihadapan gurunya sampai Allah mewafatkannya.

Bekal yang sepantasnya untuk memperhatikan terhadap pondasi-pondasi tadi agar berhasil ilmunya. 
Readmore >>

BEKAL-BEKAL UNTUK MENUNTUT ILMU [1]

Bismillahirrohmanirrohim..

ð  Kajian Selasa, 13 November 2012 di Majelis Al Barokah, Semarang

·         Dalam setiap tulisan awali dengan basmalah. Contohnya dalam Alqur’an, setiap surat pasti diawali dengan basmalah kecuali At Taubah. Basmalah untuk mencari barokah Allah.
·         “Maka risalah ini adalah kata-kata yang ringkas, hanya terdiri dari beberapa kata.” Ini menunjukkan ketawadhu’an penulis. Karena barangsiapa yang bertawadhu maka Allah mengangkat derajatnya.
·         Untuk menapaki jalan menuntut ilmu butuh pondasi-pondasi penting.
·         Menuntut ilmu agama (paling berharga) itu musti ikhlas, tawadhu’, menghambakan diri pada Allah.
·         Saya wasiatkan dan saya ingatkan dengan pondasi-pondasi tadi pada penulis, saudaraku, dll.
·         Maka seseorang yang menghendaki menuntut ilmu maka harus bagi dia memiliki pondasi/ pokok/ asas yang 10.
·         Ada banyak besak dan pondasi namun secara umum ada 10.

BEKAL-BEKAL PENUNTUT ILMU:

1.       Memohon pertolongan untuk mengamalkannya (Al isti’anah).
·         Orang ialah hamba yang lemah dibanding kekuasaan Allah.
·         Maka apabila Allah serahkan pada dirinya sendiri (tidak dibimbing Allah) maka akan sia-sia/ tidak diberi taufiq.
·         Ilmu yang bermanfaat itu menjadikan penuntut ilmu semakin takut.
·         Jika dia menyerahkan perkaranya kepada Allah dan memohon pertolongan Allah maka Allah membimbing dia.
·         Ilmu sangat penting, apalagi untuk akhwat/ ummahat, karena baik buruk suatu generasi ditentukan oleh wanitanya.
·         Dan sungguh Allah telah menganjurkan untuk menuntut ilmu dan memohon pertolongan maka Allah berfirman dalam surat Al Fatihah: 5.
·         Allah berfirman jika bertawakal setelah berusaha maka itu mencukupi baginya dan Allah menanggung urusannya. Ibtikal: bersandar pada Allah tanpa usaha.
·         Bertawakallah seperti tawakalnya seekor burung dengan sebenar-benar tawakal, sungguh Allah benar-benar memberi rizki sebagaimana Allah memberi rizki seekor burung.
·         Jangan berputus ada dalam menuntut ilmu!
·         Rizki yang paling agung ialah ilmu agama.
·         Nabi kita selalu bertawakal pada Allah, dalam semua perkara seperti pada doa keluar rumah atau bepergian, doa yang tsabt menjadikan bukti nabi adalah orang yang bertawakal dengan doa bismillahi tawakaltu... (kuserahkan semua urusan pada Allah...)
·         Ilmu tidak bisa diperoleh dengan badan yang bersantaisantai.
2.       Niat yang baik | Niat yang ikhlas, sabar, istiqomah
·         Allah ingin memberi barokah ilmu dan rizki => malah dia mundur.
·         Jangan berbangga diri dan agar dikatakan pandai.
·         Selain itu agar bisa mengajarkan, beramal sholeh, untuk keridhoan Allah.
·         Jika bersungguh-sungguh di jalan Allah maka dia akan diuji.
·         Jangan berniat untuk didengar (sum’ah), terkenal (syuhroh), atau mencari dunia.
·         Ilmu agama lebih agung dari dunia.
·         Jika niat karena Allah maka Allah memberi taufiq dan pahala karena Allah.
·         Menuntut ilmu itu wajib maka segala wasilah (perjalanan, pakaian yang baik, bekal) juga dihukumi sama dengan tujuannya.
·         Amalan seorang hamba diterima jika ikhlas karena Allah dan mencontoh rasulullah.
·         Dan ketaqwaan paling agung ialah niat ikhlas karena Allah.
·         Orang yang riya’ (supaya dilihat manusia) rugi di dunia dan di akhirat diadzab.
·         Ada cerita tentang 3 orang yang masuk neraka karena riya’. Mereka ialah laki-laki yang mencari ilmu supaya dikatakan alim, seorang yang berjihad agar dikatakan pemberani, dan orang yang bershodaqoh agat dikatakan dermawan. Semoga kita tidak termasuk dan kita berlindung pada Allah dari yang demikian itu.
·         Perzina bisa masuk surga karena niat yang ikhlas karena Allah memberi minum anjing yang hampir mati.
3.       Merendahkan diri/ tidak menyombongkan diri, selalu meminta taufiq kepada Allah.
·         Berdoa kepada Allah al istihadah (dalam menuntut ilmu).
·         Hamba itu faqir (sangat butuh pada Allah dengan kebutuhan yang sangat).
·         Dan Allah menganjurkan hambanya untuk meminta dan merendahkan diri pada Allah disertai ketaatan.
·         Rabb kita turun pada 1/3 malam terakhir maka barangsiapa yang berdoa padaKu maka akan Kuijabahi. Jika meminta akan Aku berikan, jika meminta ampunan maka akan Alah ampuni.
·         “Wahai Rabbku, berikan kepadaku ilmu. Masukkan diriku ke golongan orang sholih” Nabi Ibrahim kekasih Allah masih meminta tambahan ilmu.
·         Ijtihad seorang hakim (ilmunya mumpuni) jika salah maka mendapat 1 pahala, sedangkan jika benar maka mendapat 2 pahala.
·         Nabi mendoakan Abu Hurairah menjadi seorang yang hafal, tidak mudah lupa langsung hafal. Dan memahamkan Ibnu Abbas dengan tafsir maka ia menjadi orang yang paling paham dengan tafsir Al qur’an dan ia menjadi tintanya umat ini.
·         Kalau mereka saja meminta, maka kita lebih pantas meminta pada Allah, karena hafalan kita yang lemah.
·         Mereka meminta pada Allah supaya diberi ilmu (itu ulama). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pergi ke masjid-masjid, kemudian sujud pada Allah, meminta pada Allah. “Ya Allah, Engkau mengajari Ibrahim, maka ajari aku. Engkau memahamkan Sulaiman, maka pahamkanlah aku..”
·         Sampai-sampai Syaikhul Islam sudah hafal, tidak berlu buku.
·         Imam Ibnul Dafiq => seseorang bisa mengatakan keunggulan orang lain kalo orang itu berilmu.

Segini dulu, insyaAllah disambung lagi.


Readmore >>