Lolos dari Bertubi-Tubi dan Hadiah Cantik dari Allaah (Survey) :D


Setelah rasanya bertubi-tubi, Allaah menjawab tantangan yang kuselesaikan dengan sebuah nikmatnya (lagi). Taukah nikmat apa? :D Setelah bertubi-tubi di bawah ini, Allaah mengarunia nikmat yang sungguh lezat.

#1 Pengmas Realita IV ILP2MI : Pra Acara, Diuji Bertubi-Tubi:
1. Fee ngasisteni buat beli modem --> kandas ikut Pengmas
2. Perizinan ke ortu sulit
3. Harga laptop butut tak seberapa
4. 
#jakartaKeras: tertipu

Empat hal itu sempat membuat sedih, namun penulis tetap percaya pada pertolongan-Nya, suatu hari nanti. Dan mungkin hari ini Allaah benar-benar menjawabnya.

Hari ini penulis mengikuti training survey yang diadakan FLS dan lembaga Indef (lembaga survey ekonomi dan finansial gitu). Bersyukur banget karena selain dapet ilmu men-survey, kami juga mendapatkan alat survey (kuisionernya, seperangkat alat tulis :D bingkisan untuk warga responden, dan ada uang transport juga –dan itu rasanya lebih dari cukup-). :D

Ternyata, cukuplah kita percaya pada pertolongan Allaah dan semangat menyelesaikan tantangan yang ada. Maka Allaah akan memberikan pertolongan-Nya. Percayalah pada kehendak-Nya, hadapi setiap kesulitan yang ada, dan suatu saat engkau kan mendapatkan hadiah cantik dari Allaah. Hadiah yang bak oase di keringnya sahara, membawa kesejukan di tengah dahaga yang terasa. Benar-benar terasa, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Di training survey tadi rasanya menantang. Bagaimana kita perlu jeli memerhatikan pertanyaan-pertanyaan, melontarkannya agar si responden mau menjawab dengan valid, dan ini bakal jadi first experience dalam men-survey warga-lah. Hehehe. 
Readmore >>

Air untuk Mandi & Sebuah Kesyukuran


Bismillaah

Sekitar dua pekan yang lalu, tanggal 4-10 Mei 2014 penulis dan beberapa kawan dari seluruh penjuru Indonesia mengikuti Pengabdian Masyarakat Realisasi Hasil Penelitian ILP2MI di Banten, tepatnya di Pulau Panjang.

Sebuah kesyukuran yang teramat sangat, bisa mandi dengan air segar nan melimpah di kostan. Kenapa bisa terlontar seperti itu? Karena saat di Pulau Panjang yang notabene di samping laut yang banyak airnya, kami merasa sedikit kesulitan air tawar. Hari pertama penulis dan beberapa kawan mandi di rumah pejabat desa yang tempat itu agak ekstrem (berlubang) dan air yang dipakai pun air asin. Pernahkah kau merasakan? Mandi dengan air asin, kalau badan ada yang luka pasti mandinya terasa sakit, hmm maksudnya air asin yang mengenai badan pasti rasanya sedikit menyakitkan.

Keesokan harinya kami mandi diantar panitia ke rumah ibu-ibu penjual pisang goreng (yang dihancurkan lalu digoreng). Di sana alhamdulillaah kami mandi dengan air tawar, air tawar yang dijual seharga 800-1000/ jeringen. Sore harinya kami mandi di rumah bapak tua yang kami tumpangi. Airnya ga asin, jadi tidak menyakitkan, tapi airnya tinggal sedikit dan kami musti berbagi bertiga.

Ya Allaah, ini pengalaman mengenaskan pertama penulis. Namun dari sini kesyukuran pun bermunculan. Dan dari hal ini penulis mengambil hikmah untuk suatu saat nanti penulis akan melatih anak untuk hidup susah, jadi ia tak banyak mengeluh dengan segala keadaan yang ada.

Mungkin ini yang bisa penulis bagi, semoga mengispirasi untuk selalu bersyukur dengan keadaan yang ada, barangkali orang lain lebih susah hidupnya daripada kita. 
Readmore >>