lebih baik langsung ke praktik

Bismillah.. Teringat sebuah kisah di masa kecil. Sebuah kisah akan ketulusan seseorang yang berbekas di lubuk hati nan dalam. Sebuah episode yang singkat namun begitu sulit tuk dilupakan. Terjadi ketika aku masih SD. Cerita dimulai.. Lelaki itu, yang selama ini menjadi guru ngajiku, sabar sekali beliau dalam mendidik kami. Seorang ikhwan yang amat bisa menjaga pandangannya, hingga di awal-awal kubertanya-tanya kenapa mas ini kalau ngomong denganku tak pernah menatapku. Suatu Tanya yang kemudian bisa dijawab dengan sebuah ayat Al Qur’an surat Annur. Ketika selesai ngaji, aku dan kawan-kawan lainnya melanjutkan untuk sholat, sholat Maghrib di Masjid Annur. Karena tak ada air maka kami wudhu di rumah tetangga dekat masjid. Hmm, kami harus menimba untuk mendapatkan air. Dengan serta merta dan ikhlas beliau menimbakan kami dan dengan sabar mengalirkan air perlahan ke bagian wudhu kami, tersirat ketulusan dan keikhlasan yang kuterima, hingga berbekas kini. Aku juga masih ingat ketika beliau mengatakan _kurang lebih begini_, “Nanti kalau sudah besar tidak seperti ini ya dek.” ^_^ Sebuah episode yang bisa kami teladhani, tanpa kata-kata menasihati ataupun menggurui, dan itu yang kusuka langsung pada praktik bukan teori yang malah menggurui. Seperti pepatah mengatakan, “ lebih baik 1 perbuatan daripada 1000 ucapan.” Lebih mengena menurutku.. ^^ terimakasih guruku, tlah kau ajari aku dengan praktik dan teori. ^^
Readmore >>

lebih baik ke IPA atau IPS??

Bagi kelas X SMA masih binun kah akan memilih jurusan apa, IPA, IPS, Bahasa (kalau ada), atau Solo-Purwantoro?? (pilihan terakhir just for yang ingin melakukan perjalanan) : ) Tak usah bingung, dari pengalaman yang penulis peroleh sewaktu di bus begini: Kalau mau memilih IPA atau IPS (afwan ya terbatas IPA dan IPS) itu disesuaikan dengan kitanya, kita lebih mampu yang mana, lebih mampu hafalan ataukah menghitung. Kalau lebih mampu menghafal berarti kita lebih tepat ke IPS sedangkan kalau lebih mampu menghitung ya sebaiknya ke IPA. Mungkin selama ini ada dikotomi dan pandangan negative ya sama anak IPS (hehe afwan ya pembaca yang ambil jurusan ini). Huaha karena penulis anak IPA so kurang bisa menjelaskan mengenai paragraph ini, silakan untuk anak IPS yang lebih mumpuni bidangnya untuk mengubah cara pandang ini. : ) afwan.. karena kasian juga kalau anak maunya ke IPS namun dipaksa orang tuanya ke IPA, malah si anak kurang semangat dalam belajar. Penjurusan itu juga akan berpengaruh pada diri kita dan cara pandang kita. Kalau kita memilih IPA maka kita akan cenderung kurang berjiwa sosialis daripada yang anak IPS. Kalau jadi anak IPS itu lebih nyantai daripada anak IPA yang hampir setiap hari bejibun tugas dan ulangan (hehe kalau musim ulangan). Tapi ingat berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Dan ingat kalau di IPA nanti sewaktu kuliah bisa ambil jurusan IPA maupun IPS, namun jika di IPS nanti hanya bisa ambil jurusan IPS, begitu katanya.. Intinya sesuaikan kemampuan kita.
Readmore >>