Buscar

Loading...

Yes Man dan Pertanggungjawaban di Akhirat

Menjadi yes man itu ternyata tidak baik Guys. Btw, udah tau yes man kan? Yes man itu orang yang selalu mengatakan “ya” ketika diberi berbagai macam task, ia mengatakan “ya” karena kasihan, tidak tega, khawatir tidak ada orang lain yang mengerjakan, dan semisalnya, intinya perasaan tidak enak ketika menolak permintaan orang lain karna prasangka-prasangka dirinya. Ia menggunakan asas iba dalam implementasi kehidupannya.

Ada suatu kisah nih. Ada yes man. Ia tidak tega menolak lobby kakak tingkat untuk mengikuti lomba. Namun, ia baru tahu bahwa ia yes man dan lebih semangat pada aktivitas yang disukainya (ia belum begitu menyukai project dari kakak tingkatnya itu). Project itu tak begitu tersentuh. Hingga suatu hari ia musti mengajukan permohonan dana. Nano-nano ia rasakan, bagaimana pertanggungjawaban di akhirat untuk kasus semacam ini. Uang dari jurusan, fakultas, universitas itu untuk berprestasi, namun apa yang terjadi (?) Apa yang sudah dilakukan (?) Astaghfirullaah. Bagaimana kelak ia mempertanggungjawabkan di akhirat.

Itu kasus pertama. Ada pula yes man yang sampai men-dzolimi dirinya sendiri. Kok bisa? Iya, karena dengan ia jadi yes man, ia mengiyakan semua permintaan teman-temannya. Namanya fisik punya keterbatasan kan, nah dia sok kuat menjalankan semua permintaan itu dengan tidak memerhatikan fisiknya. Sakitlah ia. Subhanallaah. Please jaga dirimu dan jaga kesehatanmu. Kasihan juga orang tua jika kita sakit-sakitan, beliau jadi mikir-mikir juga kan.

Selain men-dzolimi diri sendiri, bisa saja jadi yes man itu men-dzolimi orang tua. Lho kok bisa? Iya, bisa. Contoh mahasiswa perantauan, kemudian ia mengiyakan semua permintaan teman-temannya, ia jadi susah pulang. Orang tua di rumah yang tlah merindukannya tak jua bertemu dengannya. Padahal orang tua juga punya ha katas dirinya. Apalagi kalau ternyata kita punya tugas dakwah ke orang tua. Dan kita malah aktif di luar, tanpa memerhatikan orang tua kita. Astaghfirullaah. Lebih perhatikan orang tuamu, dekati beliau, agar hidayah pun menyapa beliau-beliau.


Itu beberapa kasus yes man. Mungkin teman-teman mengetahui teman yang seperti itu atau teman-teman sendiri merasakannya? Hhe. Bercermin yaa J

Nah, kasus-kasus di atas, hikmah yang bisa diambil ialah belajarlah tegas. Belajarlah tegas ketika orang lain meminta tolong dan lebih selektif ketika membantu orang lain. Pilih task yang sesuai dengan passion kita, agar mudah mengerjakannya karena lebih semangat dalam mengerjakannya. Pilih task yang sesuai visi dan misi kita, agar task itu bisa sebagai latihan menuju goal kita. Ketika orang lain meminta tolong, mungkin kita bisa meminta waktu sejenak untuk berpikir apakah kita bisa membantunya atau tidak. Ini biasanya task yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama sih. Tapi yang situasional dan kondisional ya, kita tegas, tapi fleksibel juga. J



Ditulis Oleh : asysya

Artikel Yes Man dan Pertanggungjawaban di Akhirat ini ditulis oleh asysya pada hari Thursday, 5 June 2014. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Yes Man dan Pertanggungjawaban di Akhirat dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

:: Get this widget ! ::

0 comments:

Post a Comment

Assalaamu'alaykum.. Teman-teman yang mengenal saya atau pun tidak, silakan memberikan komentar teman-teman mengenai blog ini. Demi perbaikan saya, ok? :)
Syukron wa jazakumullahu khoiron