Buscar

Loading...

[Mengolah Empati] Sakit sebagai Refleksi Diri, Bukan untuk Balas Dendam ke Orang Lain

Guys, pernahkah kau merasa sakit atas sikap orang lain? Pernahkah kau merasa mengenaskan karena tiada yang perhatian? Pernahkah kau merasa tersobek-sobek hatinya karna (tu)lisan seseorang yang tetiba menghampirimu karna ulahmu? (baik frontal ataupun main belakang)

Nah, jika pernah gimana reaksimu? Ada beberapa peluang reaksi di sini. (1) Membalas orang itu (2) Merefleksikan ke dalam diri dan berjanji tidak melakukan hal sejenis, karna ternyata menyakitkan (3) Acuh. Yang mana yang kan kau pilih? Hehehe.

Ada beberapa kasus nih, yang bisa kita tarik garis kesimpulannya.

Kasus 1. Kita sakit, tepar, terkapar di kamar kost tak berdaya. Di saat seperti itu kita tidak bisa apa-apa dan tiada seorang-pun yang tahu keadaan kita. Apa yang kan kita lakukan? Untuk orang yang easy going ya bisa aja nyuruh temennya beliin makanan, namun untuk orang yang gak suka merepotkan orang lain(?) mungkin hanya beberapa teman dekatnya saja yang ia berani repotkan. Nah, dari kasus semacam ini, jika sudah ada pertanda tidak sedap dari teman yang sakit(contoh update status aneh atau blak-blakan bilang sakit), segera responsive untuk memberi pertolongan pada dia, pedulilah padanya tanpa dipinta. Karna saat itu merupakan saat yang sangat ia butuhkan untuk ditolong serta diperhatikan. Apalagi anak kostan, tau sendiri-lah.

Kasus 2. Pernahkah ada seseorang yang menyindirmu di status (berpotensi cyber war haha) (?) Atau pun yang frontal, tanpa emot smile yang menenangkan, dia mengkritikmu seperti itu (?) jika pernah, gimana perasaanmu? Hehehe. Jika kau peka atau perasa, pasti kau bisa sampai sedu sedan karna hal itu, karna ternyata kau tlah berbuat kesalahan dan merugikan orang lain, yang itu tak kau sengaja, namun itulah kelalaianmu. Jika kau pernah merasakannya dan sakitlah yang ada, maka apakah sekarang kau kan perlakukan hal itu pada orang lain(?) kau kan mengkritiknya dan kau mengkritik tanpa emot smile(?) Karna itu seperti kritik yang kurang bersahabat. Janganlah Guys, itu bak luka bertabur garam rasanya. Jika kau ingin mengkritik seseorang cukup sampaikan empat mata saja. Selain lebih mengena, itu juga yang diajarkan Nabi Muhammad Sholallaahu ‘alayhi wa sallam, apalagi mengkritik pemimpin.

Ibnu Hibban berkata: “Nasehat wajib kepada manusia seluruhnya.. akan tetapi wajib dengan secara rahasia, karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan maka ia telah mencelanya, dan siapa yang menasehatinya secara rahasia, maka ia telah menghiasinya..” (Raudlatul ‘Uqala hal 196).
Imam Asy Syafi’I berkata: “Nasehatilah aku ketika sendirian, dan jauhi nasehat di depan jama’ah. Karena nasehat di tengah manusia adalah salah satu macam mencaci maki yang aku tidak suka mendengarnya.. (Mawa’idz imam Asy Syafi’I 1/23).    
Kesimpulannya di sini ialah jika tidak ingin dipukul yang jangan memukul dan kalau kita ingin dijenguk saat sakit ya jenguklah orang lain yang sedang sakit. Hhe. Paham kan? Pahammmmm! :D

Ditulis Oleh : asysya

Artikel [Mengolah Empati] Sakit sebagai Refleksi Diri, Bukan untuk Balas Dendam ke Orang Lain ini ditulis oleh asysya pada hari Thursday, 5 June 2014. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang [Mengolah Empati] Sakit sebagai Refleksi Diri, Bukan untuk Balas Dendam ke Orang Lain dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

:: Get this widget ! ::

0 comments:

Post a Comment

Assalaamu'alaykum.. Teman-teman yang mengenal saya atau pun tidak, silakan memberikan komentar teman-teman mengenai blog ini. Demi perbaikan saya, ok? :)
Syukron wa jazakumullahu khoiron