Buscar

Loading...

Kisah Sedih Anak Wanita Karier

Bismillah.. Ini merupakan jeritan hati seorang muslimah yang ingin berbagi sedikit hal yang bisa kita gunakan sebagai tambahan bagi kita yang ingin mencari pekerjaan atau bagi kita yang ingin menjadi wanita karir. Sebuah kisah yang sedikit menyedihkan dari kehidupan seorang anak beribukan wanita karir, dan penulis berharap kita tidak  menjadi wanita karir. Perhatikan ceritanya yha.
 
Ibuku, dulu aku senang karena aku bisa dekat dengannya sewaktu kecil dan mungkin saat itu aku belum mengetahui apa-apa. Sebelum tidur ibuku mengajariku membaca surat Annas, Alfalaq, dan Al Ikhlas. Juga teringat dulu sewaktu kecil aku dan bapakku yang seorang guru menantinya di dekat kuburan (karena dulu aku tinggal di dekat kuburan) sewaktu sore menjemput, ya sekitar jam 15.00. Masa kecilku. Dulu waktu TK aku, bapak, ibu, dan kakakku tinggal di rumah nenek. Dan sewaktuku SD, ortuku mempunyai rumah sendiri. Ketika SD, sepulang sekolah aku diwajibkan tidur, dari jam 12.00-15.00. hmm, SD aku belum begitu lelah, hingga ketika jam tidur yang kulakukan bukan tidur melainkan pura-pura tidur, jadi ketika dilihat bapak aku merem (alasanku waktu itu, tidur kan merem, ya sudah aku sudah merem berarti aku sudah tidur), namun hal-hal lain kulakukan sewaktu bapak pergi (tidak melihatku).

SMP tak beda jauh, dan kini SMA kurasai betul sedihnya jadi anak wanita karir. Teman-temanku makan dengan hasil olah tangan para ibunya, sedangkan aku, aku hanya bisa merasainya 1 pekan 1 kali, yakni hari Ahad yang waktu itu ibuku libur. Tapi alhamdulillah, masih bisa merasai itu, mungkin di luar sana ada yang lebih buruk dari kondisiku.

Ibuku pulang sore, bapak kadang kerja selain jadi guru itu yakni wirausaha, jadi sewaktu aku pulang siang rumahku diam, rumahku hanya dinding-dinding yang membisu, sepi sekali, kadang hanya ditemani oleh gemericik air. Namun kadang pula bapak di rumah untuk istirahat. Kadang kurasai juga aku kurang diperhatikan oleh ibuku, orang lain semisal teman atau kakak kelasku lebih mengetahui diriku aku.

Aku juga segan kalau mau bercerita yang buruk atau kisah sedihku, karena hanya akan berakhir pada perang mulut atau aku dimarahi dan serasa tidak klop dengan pemikiranku.

Resiko melakukan selingkuh lebih besar, maaf ya, karena lebih banyak waktu yang tersita bersama laki-laki yang bukan mahromnya daripada dengan suaminya. Paling-paling rumah hanya dijadikan tempat peristirahatan.

Itu sekelumit cerita tentangku.

Dan aku bersyukur akan hal ini, karena masih banyak orang yang lebih sedih dariku, maksudnya kisahku ini tak begitu tragis dan dengan hal ini aku bisa bercerita seperti ini. Pokoknya enjoy u’r life deh.! ^^

Terima kasih buat yang mau menampilkan ceritaku ini Itu tadi cerita dari seorang anak beribukan wanita karir, dari sini kita bisa mengambil beberapa pelajaran, agar kita lebih baik tidak menjadi wanita karir, karena yang mempunyai kewajiban mencari nafkah itu suami (telah kita ketahui bersama). Beberapa pelajaran itu :
1. anak kurang diperhatikan, sehingga bila ia masuk ke lingkungan negative (lingkungan yang distruktif) ia akan menjadi anak yang nakal.
2. resiko perselingkuhan amat terbuka.
3. rumah menjadi kurang terurus.

Dan ini semua kasian pada sang anak yang kurang mendapat perhatian. Seorang ibu merupakan madrosah (sekolah) pertama bagi anak, namun wanita karir mempercayakan semua hal mengenai ibunya pada sekolah (yang tak begitu intens mengawasi anak) atau malah mempunyai baby sitter yang kemungkinan kalau baby sitternya baik maka sang anak malah merasa beribukan si baby sitter, namun jika baby sitternya kurang baik maka hal ini berimbas pada pertumbuhan pengetahuan/input pada si anak. 

Tergantung pula pada lingkungan atau teman sebaya, alhamdulillah jika bisa masuk ke lingkungan semisal anak TPA, tapi kalau malah masuk ke lingkungan yang buruk maka anak dalam pertumbuhannya akan menginput hal-hal negative, dan suatu saat jika ada masalah di rumah maka ia akan lari pada kawan yang nakal itu dan melampiaskan kekesalah tidak dengan cara yang baik.

Hal ketiga, kasian pula jika terjadi perselingkuhan. Baru tahap awal saja sudah bisa melukai si anak, semisal SMSan. Bagaimana kalau ke tahap yang tinggi, akan semakin menghancurkan hati si anak, dan ini kembali pada lingkungan si anak, jika lingkungannya baik, misal ada seseorang yang bisa mengarahkannya ke hal positif it’s ok, namun bila lingkungannya negative bisa saja ia lampiaskan dengan hal-hal yang akan merugikannya.

Hmm, maaf ya, kali ini bahasannya seperti ini, penulis hanya ingin berbagi melihat tingkah polah wanita karir dan dampaknya. Juga info tambahan bagi kita yang ingin jadi wanita karir, agar sedikit demi sedikt memangkas niatnya untuk menjadi wanita karir. Walau gajinya banyak, namun itu kebahagiaan yang fatamorgana, bukan kebahagiaan yang seaslinya. ^^

Ditulis Oleh : asysya

Artikel Kisah Sedih Anak Wanita Karier ini ditulis oleh asysya pada hari Wednesday, 23 December 2009. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Kisah Sedih Anak Wanita Karier dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

:: Get this widget ! ::

2 comments:

nunung

Masyaalloh, tapi anty bisa menangkis segal efek negatif beribukan wanita karir. semoga istiqomah...

asysya

^^ amiin, semoga akhwat itu bisa istiqomah

Post a Comment

Assalaamu'alaykum.. Teman-teman yang mengenal saya atau pun tidak, silakan memberikan komentar teman-teman mengenai blog ini. Demi perbaikan saya, ok? :)
Syukron wa jazakumullahu khoiron